Entri Populer

Rabu, 05 Oktober 2011

Kisahku Dan Mahapatih Gajah Mada

Mahapatih Gajah Mada
Kisahku .. & Kerumitan Sebuah Legenda Yang Tak Kunjung Tersampaikan  Ke Layar Kaca

By Dede Loo
             Siapa tidak tahu dengan tokoh legenda yang teramat sangat akrab dari semasa kita duduk di bangku sekolah dasar dulu. Wajahnya selalu menghiasi banyak dari beberapa versi buku cetak sejarah perjuangan bangsa. Adalah Gajah Mada, seorang pejuang yang dikenal sebagai Bapak pemersatu bangsa di Nusantara ini. Dia hidup pada era keemasan Kerajaan Termashur Majapahit. Menurut beberapa sumber dia adalah rakyat jelata yang tidak punya darah ningrat sama sekali, yang kemudian menjadi bekel, sebuah jabatan kecil di istana yang setingkat prajurit. Karena dia ulet, pintar dan tentu saja berbakat, akhirnya murid dari Naga Baruna ini berhasil menjadi seorang Mahapatih yang memimpin expedisi hingga ke manca Negara dengan membawa ratusan ribu tentara melintasi lautan luas, demi menaklukan negeri-negeri berhampiran untuk mempersatukannya di bawah panji gula kelapa (dalam hal ini melambangkan merah dan putih) di bumi Nusantara.
Sumpah palapanya sangat terkenal sekali, demi merealisasikan ambisinya untuk mempersatukan Nusantara, dia rela untuk meninggalkan kebahagiaan duniawi. Beliau mengabdi untuk Majapahit hingga usia tuanya, untuk kemudian Beliau meninggalkan keduniawian untuk bertapa di sebuah air terjun di wilayah Probolinggo, Madakari Pura di kaki Gunung Bromo. Sampai dengan detik ini tidak ada sumber yang memastikan keberadaan makam orang terkenal ini. Beberapa sumber menyatakan bahwa Gajah Mada moksa, beliau meninggalkan dunia tanpa kematian, atau hilang raga namun semangat dan jiwanya masih ada hingga saat ini.
Sebuah perkumpulan yang menyebut diri mereka rumah Produksi mencoba untuk mengangkat legenda ini kesebuah karya film dan sinetron kolosal. Mereka memulai kegiatan untuk membedah dan mengangkat Gajah Mada sejak tahun 1996, dimulai dari tempat asal gajah mada yaitu daerah jawa timur kemudian berpindah, berpindah dan berpindah. Tahun demi tahun berganti hingga pada tahun 2006 tepatnya bulan Febuari, saya bergabung ke dalam komunitas ini.
Sedikit mengungkit kisah hidup saya, sedari kecil saya sangat menyukai cerita silat, termasuk nonton film-film yang beradegan laga apa lagi jikalau menggunakan kostum tradisional dan terbang kesana-kemari… itu sangat menarik bagiku. Biasanya itu adalah sebuah khayalan anak-anak yang kemudian akan sirna dan berganti dengan hobby lain yang lebih masuk akal ketika dewasa nanti. Namun tidak dengan diri saya…, semakin beranjak umur maka semakin penasaran akan hal-hal tersebut, terinspirasi film silat dari indonesia dan hongkong saya pun tidak henti mencari informasi melalui buku maupun media lain mengenai hal-hal apa saja yang ada di dalam cerita tersebut termasuk sejarah yang terkandung di dalamnya. Saya mempelajari beladiri dan sangat suka membaca buku sejarah.
Saya meneruskan pendidikan ke negeri jiran setelah tamat SMK, mungkin terinspirasi hal diatas juga maka bakat seni saya juga hidup, berawal suka menyanyi akhirnya di negeri tetangga ini saya selalu ikut lomba nyanyi di Mall-mall. Hingga pada suatu ketika saya di hampiri oleh 2 orang pria yang mengaku dari sebuah agency modeling. Dia meminta saya untuk datang ke kantornya keesokan harinya. Setelah saya sampai mereka menawari saya untuk mengikuti Mr/Ms Valentine 2004. Saya sempet menolak karena saya tau itu dari pamphlet yang ada di hampir semua sudut kota penang, kalau pemilihan itu melalui audisi dan menurut cerita orang sudah hampir 2500 orang mendaftarkan diri. Namun mereka maksa saya untuk ikut tanpa jalan audisi dan langsung menjadi salah satu dari 12 orang Grand Finallis pria, dengan alasan wajahku memiliki kelainan dibandingakan wajah cowok melayu local. Aku menyetujuinya.
Akhirnya acara di gelar pada 14 Febuari 2004 setelah seminggu saya digodok untuk berjalan di cat walk dan berpose untuk pemotretan. Sebelumnya kira-kira sebulan sebelum hari H, saya sempet di bawa kesana dan kemari bersama ke-23 finalis lain (kita berpasangan) untuk sesi pemotretan yang dilakukan di beberapa tempat berbeda dari indoor dan outdoor sampai ke hutan-hutan.
Setelah acara selesai saya dilanjutkan kontrak dengan sebuah perusahaan perawatan kecantikan terkemuka di sana, aku di kontrak mulai 28 feb 2004 hingga 28 feb 2005. Sepanjang keterikatan saya tersebut saya sangat sibuk untuk kegiatan modeling di catwalk maupun menyanyi. Hingga suatu saat saya harus kembali ke tanah air pertengahan 2005. Karena ternyata saya enjoy melakukan kegiatan diatas akhirnya aku ingin mengulangi nya di negeri sendiri. Saya tidak tahu betapa ini sangat berbeda dari semua hal yang aku alami di negeri jiran itu. Saya berkali-kali di tipu oleh agency modeling di Indonesia dan juga production house. Hingga pada bulan Febuari 2006 saya dipertemukan dengan sebuah tempat yaitu kawasan hutan buatan CIFOR (Center International Forest Research) yang berada di desa Sindang Barang Jero, Dramaga Bogor.
Ketika itu saya datang sekitar jam 10 pagi, udara disana lumayan segar karena di tengah hutan, saat mobil berhenti dan saya keluar, saya sempat terpegun karena ada sebuah bangunan Istana kerajaan jawa di depanku, saat itu istana itu masih sebuah balai besar beratap joglo dengan sedikit ornament jawa trandisional khas sinetron silat. Di depan set istana itu saya lihat ada beberapa orang pemuda tanggung yang sedang berlatih bela diri. Mereka Nampak kucel dan kotor mungkin karena setiap hari harus berlatih di lapangan dengan fasilitas yang seadanya.
Saya diperkenalkan kepada seorang yang sangat karismatik dimata saya, dia adalah Renny Mursantio Masmada. Kita biasa memanggilnya Om Renny atau Renny Masmada, orangnya berpembawaan kalem, kebapakan  berwibawa dan murah senyum. Beliau adalah penggagas dari semua ini, semua cerita Gajah Mada ini, dia juga adalah orang yang paling mengerti tentang pahlawan besar ini, sudah puluhan tahun beliau melakukan reset untuk ini. Saat itu tampangku yang masih lumayan fresh, baru pulang dari negeri orang yang memiliki fasilitas bagus didalamnya serta perawatan diri yang rutin, aku mendapatkan sebuah peran setelah saya melalui casting. Saat itu saya mendapatkan peran sebagai Toa Lun, seorang pendekar kitai nagari (China) yang datang bersama ke 5 rekannya untuk membunuh Tribuana Tungga Dewi atas dasar penganiayaan yang dilakukan Kertanegara terhadap paman seperguruan mereka dimasa singosari yaitu Meng-Chi yang di potong kupingnya. Ya.. kita di casting untuk kesatria yang ternyata salah menagih hutang istilahnya. Saya gembira sekali karena saya membawa pulang sekenario yang juga ditulis oleh S.Tijab yang berisi ratusan halaman, saya juga gembira karena saya sudah tanda tangan kontrak untuk beberapa episode awal, dan untuk episode yang rencana totalnya 356 episode itu akan menyusul kemudian.
Saat itu saya tinggal di Cibubur, karena setiap hari harus datang untuk berlatih kung-fu dan reading sekenario maka aku memutuskan untuk pindah ke Bogor, saya tinggal berhampiran dengan lokasi istana Majapahit dan komplek lokasi shooting sinetron kolosal ini. Hari demi hari aku lalui seperti anak sekolah, pagi jam 07:00 aku datang ke ballaiurang (begitu kita meyebut bangunan utama set Istana Majapahit yang menyerupai pendopo raksasa ini) untuk belajar demi mendapatkan hasil yang baik saat take shoot nanti.
Dari Cuma belasan orang yang tergabung di sini hingga ratusan orang, karena penduduk sekitar juga ikut dilibatkan dalam Produksi mega kolosal ini. Suasana saat itu memang sangat menyenangkan, dekat dengan masyarakat yang hangat, semaua terasa seperti keluarga. Semua ada disini, ada gembira, ada tertawa ada juga kesedihan campur aduk jadi satu. Terkadang ada juga artis yang sudah punya nama datang ke lokasi dan juga ke kantor kami yang saat itu bernama PT. HMP Numismatic Indonesia Film Production.
Hari berganti hari, para pemain yang foto dan nama peran sudah terpampang di dinding kantor PH ini sudah terkumpul semua dilokasi mengikut schedule, akhirnya soft launching digelar di IPB bogor. Kemudian lagu tema yang dibuat sangat bersemangat dan indah menggelegar gagah oleh musisi kenamaan Indonesia Areng Widodo pun ikut diperdengarkan berkali-kali di lokasi. Suasana riuhnya shooting sudah sangat dekat, aku tidak sabar untuk menggunakan kostum seorang kesatria China dan membawa sebilah pedang. Aku terbayang untuk melakukan adegan di salah satu scene yaitu saat saya bertempur dengan Ra Kembar (diperankan oleh Torro Margens) di depan Istana Majapahit.
Hari dimana take pertama dimulai, saat itu pengambilan gambar secara random, tidak berurutan karena untuk membuat sebuah trailer terlebih dahulu. Ternyata shooting itu menyenangkan tapi juga capek bukan kepalang, dari subuh ketemu subuh.., makan nasi kotak yang kadang sudah membeku, mata mengantuk tapi masih memakai make up tebal di malam hari dengan wig yang membuat kepala gatal. Saat shoot siang hari ketika lapar atau haus dan ingin jajan di tepi jalan maka saya harus berjalan dengan pakaian ala peran saya ke jalan depan untuk membeli es cendol, maklum kan gak punya asisten.
Sampai pada suatu ketika shooting tiba-tiba berhenti, saya tidak tahu apa penyebabnya, namun beredar kabar yang kurang enak di dengar, tapi saya tidak peduli dalam hati hal semacam ini hanya membuat semangat saya turun saja. Di saat senggang tidak ada shooting saya dan yang lain sering bertandang ke lokasi dan bertemu dengan Om Renny untuk mendengarkan cerita-cerita dari beliau, terkadang kita menyanyi bersama dengan mendendangkan lagu yang beliau ciptakan. Perlu diketahui Renny Masmada adalah seorang multi talent dari sendi peran, teknik perfilman, teater, penulis, penyanyi dan pencipta lagu…
Setelah beberapa lama vacuum, akhirnya shooting dimulai lagi, peralatan shooting pun kembali datang ke lokasi, lampu-lampu besar, kamera, serta kuda-kuda sudah mulai dilatih kembali. Anak-anak, ibu-ibu, Bapak-bapak bahkan ternak dari masyarakat sekitar juga dilibatkan shooting kali ini. Ramai sekali, menyenangkan dan hangat. Tidak terasa tahun sudah berganti, aku terbuai, banyak temen, saudara baru dan pengalaman yang aku dapat. Namun saya lupa tujuan awalnya. Ya tujuan awal adalah pembuatan sebuah mega sinetron kolosal dengan judul “Mahapatih Gajah Mada” dengan dana yang tidak sedikit. Sudah sekian lama sinetron ini juga belum bisa ditayangkan karena berbagai masalah yang harus direvisi. Terkadang apa yang menurut kita bagus dan keren, menurut penonton dirumah itu tidak enak dilihat. Sinetron ini memang lebih mengedepankan intrik politik dan sejarah yang ada di kisah Gajah Mada, namun tidak sedikit pula menyuguhkan adegan laga yang fantastis, namun produser bersabda bahwa sinetron ini tidak akan menampilkan adegan terbang yang berlebihan dan juga tidak menampilkan adegan laga yang menggunakan banyak effect visual, jadi agak menantang arus memang.
Namun tidak lama kemudian shooting kembali berhenti, orang-orang satu persatu meninggalkan lokasi, desa Sindang Barang Jero yang biasanya ramai sekali di datangi orang, baik itu yang ingin ikut shooting walau hanya sebagai figuran yang harus berlarian di kejar bandit di pasar dengan honor hanya 35ribu maupun yang hanya ingin melihat seperti apa sih shooting sinetron itu, atau ah… kaya apa sih rupa artis ini jika di lokasi. Secara tidak langsung tempat ini sudah seperti Hollywood-nya kota Bogor, karena banyak sekali film dan sinetron yang mengambil lokasi ini sebagai set. Penduduk sekitar juga di untungkan karena kontrakan mereka penuh, yang tadinya tidak buka warung jadi punya warung.
Tempat ini terus naik dan turun, terkadang shooting nanti break lagi lama, begitu seterusnya hingga suatu saat shooting ini benar-benar berhenti, sungguh malang nasib pemain-pemain muda dari daerah yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka rela pindah sekolah demi terlibat Produksi ini, namun Produksi harus berhenti ditengah jalan. Tentu saja ini meninggalkan beban mental bagi mereka, pasti di ejekin temen di sekolah dan ini … dan itu…, kini penduduk Majapahit di lokasi ini semakin berkurang, sudah tidak ada lagi anak-anak berlatih silat depan istana buatan ini, tidak ada lagi ocehan-ocehan lucu dari salah satu penata make up yang biasanya bikin suasana heboh. Satu persatu pergi, dan tinggal segelintir saja, production house ini dengan pemilik tanah yang di sewakan untuk shooting pun kabarnya ada konflik mengenai pembayaran, demikian juga para pemain yang punya banyak hutang di warung-warung sekitar membuat warung-warung ini tutup. Ini bener-bener mengenaskan, kondisi semakin parah ketika listrik di lokasi di cabut PLN, rasa percaya yang aku tanam di sana pun mau tidak mau harus meleleh dan mengalir ke danau situ gede, sebuah danau di lokasi shooting yang menyimpan banyak kenangan indah di sana buat saya.
Dalam hati kecil saya sangat sedih, bukan masalah karena gagal tayang atau gagal jadi artis laga, namun semua orang sudah tidak ada di sini, aku bukan orang asli kampong ini, aku mulai berpikir untuk melompat namun tidak tau harus kemana. Tampang ku yang awalnya lumayan bersih dan cling dengan isi dompet tidak pernah nihil, handphone yang keren kala itu, kini tidak punya apa-apa lagi, boro-boro hape, baju yang mahal pun kini keliatan seperti gembel karena air yang jelek untuk mencuci, tidak ada biaya perawatan lagi, rambut aku tidak terawat, semua terbalik…. Bahkan barang-barang aku sempet ada yang hilang entah kemana…, berat badan aku turn belasan kilo.
Saya berpikir lagi, kenapa aku begitu jauh terperosok, namun pengalaman yang aku dapat teramat tidak ternilai harganya, karena tidak semua bisa merasakan pengalaman seperti ini, saya yakin penggagas program ini pun tidak bermaksud menterlantarkan kita semua. Semoga saja.
Saya pindah ke tangerang saya mulai bekrja di sebuah perusahaan televisi berbayar, kemudian setahun berikutnya saya pindah kerja di perusahaan Taiwan, ini sebuah pabrik sepatu, dengan kemampuan bahasa mandarin ku aku di terima sebagai salah satu staff department di sana.
Dalam benak saya, semua hal yang aku ceritakan diatas sudah seperti mimpi panjang yang bisa aku share ke orang-orang yang aku kenal setelahnya. Beberapa kali juga saya mendengar dan mendapat panggilan dari temen-temen yang masih ada di Produksi itu bahwa mereka akan memulai Produksi lagi, kali ini di tempat lain, di pulau Bali, saya tidak memperdulikannya karena saya sibuk bekerja yang jelas-jelas memberi saya penghasilan. Kabar bubar dari Bali pun sampai di telingaku, dan datang kabar mulai Produksi lagi kali ini dari pandeglang dengan orang-orang yang sama namun banyak orang-orang baru, namun hal ini juga tidak lama dan kemudian menghilang lagi entah kemana.
Jikalau di urut dari jaman pertama kali di gagas, pembuatan sinetron kolosal ini pertama mau dibuat dan diusahakan pembuatannya tahun 1996, bayangkan saat itu aku masih kelas 3 SMP, dan aku bergabung 11 tahun kemudian, 2 tahun kemudian aku tinggalkan kegiatan itu hingga saat ini sudah 2011 akhir, jadi sudah hampir 5 tahun saya meninggalkan Gajah Mada dan mereka sudah berpindah, memulai shooting baru kemudian bubar lagi, dan pindah lagi dan bubar lagi begitu seterusnya bahkan munkin hingga hari ini. Karena saya masih membaca berita baru mengenai Produksi hal yang sama entah itu dari orang lama atau orang baru. Bayangkan sebuah sinetron dibuat dari 1996 hingga 2011 totalnya sudah 15 tahun belum selesai, dan belum tayang juga.. pemain berganti ratusan kali dan sebagainya… dan sebagainya.
Sekarang keadaanku jauh lebih baik dari saat itu dulu, aku hidup sebagaimana masyarakat pada umumnya, pagi ke kantor dan sore pulang, awal bulan terima gaji dan begitu seterusnya, ini membuat saya lebih berarti dari pada harus mengejar mimpi yang tidak pasti. Kalau harus dituruti mau sampai kapan? Sampai detik ini saya juga tidak tahu mengapa kisah Gajah Mada sangat sulit untuk dikemas dalam bentuk film, pertunjukan dan sejenisnya, mungkin untuk buku sudah banyak diterbitkan,,akan tetapi karya dalam bentuk film, sinetron dan sejenisnya selalu gagal di tengah jalan. Munkin ada misteri tersembunyi dibalik itu semua, atau mungkin pahlawan ini tidak nyata atau bahkan beliau Gajah Mada yang moksa ini melihat kita? Beliau merasa tidak pantas? Sehingga semua di gagalkan? Atau memang karena tidak ada keseriusan dari para sineas kita untuk membuatnya menjadi sebuah maha karya… , karena mungkin mereka beranggapan dana yang dibutuhkan akan sangat mahal, makanya lebih baik membuat sinetron abal-abal saja yang penting TV ada gambarnya, atau bikin film hantu saja yang penting bioskop ada film Indonesianya.
Terus kalau begitu kapan kita punya film seperti Chrouching Tiger Hidden dragon? Atau Hero atau sinetron semacam Dong Yi..? semuanya kembali ke diri kita masing-masing. Semoga cerita ini menjadi pembelajaran bagi para pembaca yang bercita-cita menjadi penghibur, tidak halus jalannya dan tidak semua orang bisa ketemu jalan itu, dan juga para insan film semoga terinspirasi agar punya niat tulus untuk mengangkat Beliau sang pemersatu bangsa ini menjadi sebuah maha karya agar dapat bercerita dengan jelas, indah dan menarik kepada anak cucu, dan seluruh khalayak di dunia ini kalau Indonesia memiliki seorang pahlawan besar kala itu, dan memiliki kerajaan super berpengaruh kala itu. (Dede Loo, 2011/10/05) 

Jumat, 30 September 2011

REVIEW TUTUR TINULAR VERSI 2011

Dulu sekitar tahun 1995 pertelevisian Indonesia digempur secara bertubi-tubi oleh tayangan serial maupun film silat import dari hongkong. Saya masih ingat betul kala itu, dimana setiap hari pada jam-jam prime time diduduki oleh serial kungfu mandarin, hampir semua setasiun televisi (kecuali TVRI tentunya yang masih ngeributin iuran) menayangkannya, lihat saja seperti TPI yang sekarang berubah nama menjadi MNC TV kala itu memiliki program “Jagat Kungfu” setiap hari pukul 19:30, serial-serial seperti Pedang dan Kitab Suci, Pendekar Hina Kelana, Judge Bao adalah sebagian kecil dari program Jagat Kungfu yang popular kala itu. Di setasiun lain juga tidak mau kalah, SCTV punya program seri silat legenda negeri tirai bambu yang sangat terkenal yaitu Bai Shi Zhuan atau White Snake Legend dengan tokoh utama Pai Shu Chen, atau Indosiar yang dengan sangat berani menampilkan trilogy Chin Yung, Pendekar Pemanah Rajawali (Shen Tiaw Eng Hiong), Kembalinya Pendekar Rajawali/Return Of The Condor Heroes (Shen Tiaw Hiap Lu/Shen Tiaw Shia Li) dan Pedang Pembunuh Naga (To Liong To). Walau trilogy itu sudah uzur ya…. secara versi yang ditayangkan di TV kala itu adalah versi yang lama saat Andy Lau masih muda belia tahun 80-an. Setelah serial itu booming mendadak saat usia serial sudah belasan tahun tentu saja mungkin pemainnya kaget ya heeeee…
Akibat serbuan serial kung-fu dari dataran china yang teramat banyak itulah, maka para pekerja seni atau lebih spesifik lagi orang-orang film local berpikir untuk membuat serial silat local, maka munculah Genta Buana Pitaloka yang kala itu lama tidak membuat serial silat meluncurkan Singgahsana Brama Kumbara, bagaimana reaksi masyarakat…? Wooowww berhasil, Eh.. tapi sebelum singgahsana Brama Kumbara, pada sekitar akhir 80-an hingga awal 90-an rumah Produksi pak Budi Sutrisno ini juga pernah membuat “Mahkota Mayangkara” yang tayang setiap hari sabtu siang pukul 11:00 di TPI, itu lho sequelnya Tutur Tinular, tapi malah digarap jauh-jauh tahun sebelum Tutur Tinular Serial di buat.
Saking suksesnya membuat sinetron silat, dan rasanya pertelevisian indonesia sudah demam serial silat ya, maka rumah Produksi lainpun tidak mau ketinggalan, semua seolah berlomba menggarap sinetron silat dengan berbagai jenis. Sebut saja Hari Topan Entercine menggarap Wiro Sableng, Diwangkara dengan Jaka Tarub, Jaka Tingkir, Garuda Film menggarap Prahara Prabu Siliwangi, tidak hanya production house yang identik saja menggarap serial laga, Perusahaan pembuat sinetron semacam Multivison dan Starvision yang kebanyakan membuat drama serial kala itu juga ikut latah, starvision membuat Jacky, dipasang kan Ari Wibowo dan Ayuni Sukarman menjadi jagoan-jagoan muda ibukota, dengan seting jaman sekarang tentu saja memberi warna lain, Multivison meluncurkan “Perjalanan” kembali Ari Wibowo berlaga sebagai jagoan kali ini digandengkan dengan ratu sinetron kala itu Tamara Blezinsky yang wajib untuk beradu tendangan juga. Judul-judul lain kemudian menyusul, hampir semua cerita rakyat di negeri ini sudah terangkat dengan indah dilayar televisi, hingga suatu saat titik jenuh itu muncul juga. Dalam pandangan saya, kejenuhan muncul bukan dari para pemirsa TV…, melainkan para produsen itu sendiri, yang sudah tidak bersemangat lagi menggarap nya. Para pemain mungkin dikurangi adegan laganya biar honor bisa di pangkas, sehingga digantikan oleh gambar animasi kelas bangkai tikus…. Ya Tuhan Jeleeeeeeknya minta ampun, gimana penonton gak muntah-muntah lihat orang mau berantem sudah pasang kuda-kuda tiba tiba jadi kala jengking lah, jadi kodok, monster ini , monster itu walaaaaaahhhhhh pokoknya semua binatang dimuka bumi ini dari semut sampai biawak pernah menjadi stunt in para tokoh sinetron silat dalam adegan laga…. Ihhhh muntah kaleeeeeng.
Dan begitulah hingga kemudian sampai pada masa transisi,…. Masa ini adalah masa dimana saya merasa seperti menderita stroke yang cukup lama, gimana tidak…, ada sinetron atau FTV judulnya Jaka Tarub dan 7 Bidadari eeeeeeeeeehhhhhhh jaka tarub pakai celana jeans, bawa mobil, trus berantem ala serial silat, nama tokoh macam orang jaman dahulu, tapi rumah gedongan, pakai gaun tapi berantem pakai pedang dan loncat terbang, habis itu nyanyi dangdut ala india…… wadddddddduuuuuuuuhhhhhh aku tersiksa bener……  hingga suatu saat hal semacam itu lenyap sudah. Tidak ada lagi  sinetron atau FTV indonesia yang berantem-berantem. Saat itu semua sinetron berganti dengan cerita yang hooooaaaaaaammmmm mau bobo kalau saya ingat, lebih muntahhhhhh kaleeeeeengggggg. Ada bibir yang di tukar, ada cinta fitri banci, ada ini ada itu gua tidak mau tahu. Apa masyarakat senang….. yaaaaaa tentu saja para ibu rumah tangga, remaja putri dan juga remaja putra yang keputri-putrian pasti suka tayangan cengeng babi ala cinta fitri dan lainnya.
Sinetron cengeng ala telanovela tetapi lebay ini merajai pertelevisian sudah bertahun-tahun yaaaa sekitar 5 tahun terakhir. Berhasil sih… secara mungkin tidak ada tontonan lain, atau masyarakat kebanyakan malas menonton film import berkualitas ala Bioskop Trans TV atau Box Office nya RCTI karena kendala bahasa. Yang penting sinetron drama najis itu ada dimana-mana, bintang baru dengan acting diluar standard bermunculan, bintang macam Nikita Willy dan Sheren Sungkar pun kebingungan mau simpen duit dimana saking kaya nya gara-gara sinetron ini sukses membodohi masyarakat. Sampai sekarang juga saya selalu menunggu adanya sinetron laga klasik macam dulu, saya berterima kasih kepada Indosiar yang masih mau menayang ulangkan sinetron buatan Genta Buana pitaloka yang dulu booming di layarnya, walau tayangan ulang jam 1:00 dini hari aku suka menontonnya.
Baru-baru ini, Genta Buana Pitaloka yang sudah lama mengganti nama menjadi Genta Buana Paramita, merilis ulang atau tepatnya lagi membuat ulang kisah sukses Tutur Tinular menjadi Tutur Tinular Versi 2011. Melihat tayangan trailer di televise saya sangat gembira sekali, karena saya berfikir ini lah saatnya geliat laga klasik kolosal kembali bangun dari bobo nya. Hingga tiba saatnya penayangan perdana Tutur Tinular versi 2011 itu tiba, dan saya menyaksikan dengan antusias dari pertama gambar muncul.
Hatiku yang berbunga-bunga mendadak malah menjadi berakar-akar gak karuan melihat tayangan yang dulu sangat aku cintai ini. Bagaimana tidak, kesan pertama muncul pemain menggunakan kostum ala kerajaan Mataram Islam saya sudah kaget, ini Genta Buana tumben banget, apa mereka mabok semua atau malah merekrut penata kostum secara asal-asalan sambil merem atau bahkan tidak ada meeting dengan serius mengenai kostum. Minimal mereka melihat di masa Tutur Tinular 1997, ini adalah kerajaan Singasari. Singasari adalah sesepuhnya Majapahit, pada jaman Majapahit saja tidak ada pakaian yang tertutup, semua pria sampai rajanya juga bertelanjang dada, paling dia memakai aksesoris seperti kalung atau selendang, tapi bagaimana mungkin pejabat kadipaten Manguntur dan Kurawan berpakaian ala Kerajaan Mataram, dengan menggunakan jas jawa warna-warni wartinah waria warung tegal (lebay dehhhh) bertopi seperti ember kapur ala penganten jawa, semua itu bukan punya singasari. Kostum wanita juga tidak kalah mengecewakan, oke lah mungkin dengan sedikit improvisasi pada hiasan mewah di kepala salah satu putri ini agak menarik, tapi mengapa pakaian Nari Ratih seperti wanita Hindustan dengan kerudung?
Bukan itu saja pemilihan peran untuk tokoh-tokoh sentral juga kurang sreg.. Arya Kamandanu berkulit terlalu putih, wajah kurang Simpatik dan terlalu ceking, sementara ayahnya Empu Hanggareksa malah terlihat lebih muda dan tidak ada tampang seorang Empu pembuat senjata, tidak disinggung sama sekali kalau ayah Kamandanu ini adalah seorang Empu, dia berpakaian seperti lurah-lurah pada masa kompeni yang menguasai pasundan….. waduuuuuhhhhhhhhhhhhh parah.
Musik pengiring….. dulu pada zaman Tutur Tinular versi bioskop dan Tutur Tinular 1997 musik digarap dengan sangat bagus sekali oleh Harry Sabar, dengan adanya ilustrasi music tersebut kesan kolosalnya duuuuuaaaaapattttt buaanget…, para pendekar tampak gagah dan perkasa saat bertarung di iringi ilustrasi music om Harry. Bahkan dalam Saur Sepuh dulu music Harry Sabar sempat di pakai untuk Produksi film laga di hongkong…. Tapi….. Tapi…. Oh….. lihat sekarang, saya pusing mencari siapa penggarap ilustrasi music pada Tutur Tinular 2011 ini, entah siapa namanya.. apa dia pemain organ tunggal atau apa. Dalam sebuah adegan pertemuan Arya Kamandanu dengan Nari Ratih aku sempat korek-korek kuping tidak percaya ketika aku mendengar ada lagu Original Soundtract Chin Shen Shen Yu Mong Mong/清深深雨蒙蒙 (Kabut Cinta) yaitu lagu Hao Xiang Hao Xiang/好想好想dalam bahasa Indonesia dan dinyanyikan oleh seorang pria, lagu itu dalam satu episode muncul berkali-kali. Demikian juga dengan music lainya aku rasa seperti memotong instrument dan di tempel begitu saja pada adegan-adengannya, waduuuuuuhhhhh yang kaya gini gak bisa nih dibilang versi 2011. Dimana-mana yang namanya versi baru itu selalu lebih bagus dari versi lamanya, lihat aja Return of The Condor Heroes versi Lama dengan baru kan bagusan yang baru, walau artis ganti tetapi hal-hal lain semacam effect dan teknologi pengambilan gambar tambah keren…. Ehhh yang ini malah seperti habis pakai window vista terus pakai DOS, mampus dah… mending gua nimba air ngisi bak mandi.
Yang paling fatal dari semua adalah adegan fight yang selalu saja dibuat slow motion, hellllloooooooo ini sinetrol silat, dahulu kala jaman sinetron macam ini booming, dalam lokasi shoot ada latihan khusus para pemain untuk dapat beradegan speed fighting…, ini di tekankan sekali lho terutama di Diwangkara, calon pemain yang bisa speed fighting dan yang tidak pasti akan lebih di hargai yang bisa speed fighting. Karena adegan akan semakin dramatis melihat jurus silat yang di peragakan dengan bagus dan cepat, perpaduan kibasan pedang, pukulan dan tendangan serta loncatan itu diberi effect suara hasilnya sangat memukau, nah kalau dah di slow motion terus apa bagusnya,? Mau taruh sound effect juga nanti bunyinya seperti apa?..... walahhhhhh jadi ingat ketoprak nya TVRI stasiun Yogyakarta deh … kakang mbok….
Ada lagi ini yang parah banget ni, Tutur Tinular Versi 2011 ini tidak di dubbing, mereka menggunakan direct vocal atau suara asli pemain seperti sinetron drama pada umumnya. Ini tentu mengganggu, sinetron silat kebanyakan beradegan di luar ruangan dengan latar belakang hutan, danau atau pasar buatan, untuk shooting di medan seperti itu tentu tidak mungkin dong genset di taruh di bawah tanah atau di letakan di kampung sebelah, mau ditaruh dimana juga itu suara generator kedengaran masuk ke boomer. Ingat tidak di Prahara Prabu Siliwangi dulu entah ada salah dimana, salah satu episode lupa tidak ter dubbing, hasilnya saat tayang di televisi dialog tidak kedengaran dan yang terdengar suara mesin genset yang mengganggu. Mungkin iya jaman sekarang ada boomer yang bisa meredam suara latar yang ribut, tetapi penggunaan logat bahasa pemain kan sangat berpengaruh, mana yang harus berwibawa, mana yang romantis, mana yang urakan dan mana yang menggoda itu memerlukan teknik vocal tersendiri, nah teknik vocal inilah yang belum dikuasai oleh kebanyakan para pemain sinetron laga jaman sekarang, jadi akan lebih bagus banget kalau di dubbing menggunakan pengisi suara yang professional seperti sanggar Prativi dan lainya. Coba saja perhatikan suara Nari Ratih yang aduuuuhhhh gimanaaaa gitu bikin mules kalau dengar…. Datar dan tidak berjiwa.
Walau bagaimanapun juga aku selalu mengikuti setiap episodenya karena saya masih menunggu kehadiran Mei Shin, entah apa jadinya Mei Shin nanti, kostum apa yang akan di pakai? Terkadang saya suka geli dan tersenyum sendiri, bagaimana tidak melihat kostum pemain yang saya sebutkan di atas sudah salah nah ketika Mei Shin Muncul saya membayangkan dia menggunakan pakaian ala wanita china pada zaman Manchu, jadi kaya putri Huan Zhu gitu ada kebon bunga di kepala dan sandal yang hak nya di tengah huaaaaa haaaaa haaaaa….. habisnya bête banget dari tadi salah kostum mulu.
Sampai dengan detik ini yang saya pantau sinetron ini cukup mengejutkan, pada episode pertama dan kedua, dia mendapat peringkat 6 besar di ratting, ini mungkin karena semua penggemar Tutur Tinular dan sinetron kolosal ngumpul untuk nonton, tetapi kalau mereka tau kualitas idolanya itu tidak sehebat yang dibayangkan, apa mereka mau bertahan untuk menontonnya terus, minimal setelah semua tokoh sentral keluar gak ada yang berubah maka ya sudah Good Bye My Love judulnya.
Sekarang tugas Genta Buana Paramitha adalah merevisi sinetron ini, oke sebagai pengantar kita maafkan ke kakuan yang ada, namun semangat harus terpacu dan otak  terus bekerja keras agar bisa mendapatkan kualitas sinetron seperti harapan public. Andaikan Tutur Tinular 2011 ini bertahan dan sukses hingga episode terakhir menjaring penonton, maka judul-judul lain bukan tidak mungkin akan muncul kembali, bahkan dengan format yang lebih bagus, dan pemain yang lebih fress dan berkualitas tentunya. Saya selalu berharap agar kita bisa mencintai buatan sendiri, minimal tontonan di tivi itu berbeda-beda, jangan kaya sekarang, yang satu bikin kuis yang lain ikut, satu ada panggung komedi yang lain gak mau kalah, kalu begini ya jangan banyak-banyak stasiun TV, mending marger aja ya nggak…. Semangat ya. (Dede Loo, 09/30/2011)  

Senin, 13 September 2010

Teman Bercerita Dimasa Kecil

Masa kecilku dulu terjadi pada tahun 80-an, dimana hiburan kita yang paling populer adalah bermain "junjangan" atau permainan tradisional turun temurun yang berisi nyanyian kemudian tindakan seperti berlari, bersembunyi dan lainnya. Pada saat itu jam-jam "prime time" untuk sebuah tayangan televisi pada saat ini adalah jam "prime time" untuk kami juga bermain berbagai macam mainan.

Sebenarnya pada saat itu untuk yang sudah berusia remaja di era 80 an sudah memiliki beberapa option hiburan yang biasa mereka ikuti, selain daripada tontonan gratisan dilapangan (layar tancap), atau akrobat berbayar murahan yang kadang bertandang ke kampung kami setahun sekali, atau mendengarkan sandiwara radio selain dari nonton acara "Album Minggu Kita" dan "Aneka Ria Safari" di stasiun televisi pertama dan milik pemerintah indonesia TVRI yang saat itu tiada tandingannya, mau pahit mau manis yaa.. telan aja, dari pada stress.

Saur Sepuh
Yang paling saya ingat adalah kala itu betapa boomingnya sandiwara radio, pada saat itu umur aku sekitar 5 tahunan, untuk menyebut tokoh dalam serial itu pun lidahku belum sanggup sefaseh sekarang. Dimulai dengan cerita kerajaan Madangkara "Saur Sepuh",  yahh.. sandiwara radio ini pada masa kecil saya selalu jadi bahan rumpian dibawah pohon jambu sambil mencari kutu oleh para ibu-ibu, atau pas ada tukang sayur datang sambil membolak-balik kangkung mereka para ibu dan tante kami masih sempet membincangkan "Brahma Kumbara" dan "Mantili". Maklum saja pada masa itu belum ada infotaiment seperti sekarang, siaran berita di televisi satu-satunya di Indonesia saat itu adalah program acara yang membosankan bagi orang kampung seperti kami, bagaimana tidak, semua yang di beritakan mengenai peresmian ini, peresmian itu, kunjungan ini, kunjungan itu. Tidak seperti sekarang acara berita adalah yang selalu ditunggu oleh semua lapisan, karena benar-benar menceritakan yang terjadi di sekitar mereka.

Eh... kok jauh banget ya ngelanturnya..., kita lagi ngomongin saur sepuh tadi yaa. Masih ingat apabila mama saya menyalakan radio pada saat itu yang sedang menayangkan program sandiwara terpopuler Saur Sepuh, beberapa remaja tetangga yang tidak memiliki pesawat radio pada nemplok di deket jendela atau pintu kaya keong racun heeeee....., coba kalau diulang lagi dengan persis deh sandiwara itu, masih ada gak yaaaaa yang mau nemplok di tembok, xi... xi... Yang saya tau saat itu hanya stasiun radio swasta lokal yang menayangkan sandiwara itu, dan RRI tetepppppp saja dengan warta berita yang dimulai dengan iringan musik "rayuan pulau kelapa" yang sampai sekarang masih merinding kalau dengar karena terasa jadoeeeeeelllll banget.

Seiring berjalannya waktu, maka pada tahun 1987, serial sandiwara yang terkenal dan fenomenal itu diangkat ke layar lebar, haaaaaa... masa itu kita nonton di "Sena Theater" atau adik  nya lagi "Pusaka Theater" yang sekarang berubah jadi gudang beras.. Wkkkkkk kkkk. Berbondong-bondong warga dari yang tidak pernah nonton bioskop pun ikut ngantri tiket demi mem-visualkan tokoh idola mereka saat itu, "aduhhhh.... kaya apa sih Brama Kumbara, dan seperti apa yaaaa... Mantili pas duel sama Lasmini... ? Heeeuuuuh.... awas kakanng ....... chiaaaaat hop hiatttt..., eh... biasa keterusan deh, terlalu terobsesi saat itu (Hiiiiii malu).

Jangan salah juga lho... bukan cuma film atau sinetron aja yang punya soundtrack, nah satu-satunya sandiwara radio yang juga sukses ber lagu tema ya Saur Sepuh ini, ingat gak suara Elly Ermawati si Mantili itu yang mendesah serak-serak gimanaaaa gitu melantunkan "Indah Cinta Pertama" bersama seorang laki-laki aduh aku lupa lagi namanya. Ya lagu ini juga sukses terjual kaset nya, dan berhasil nongol di acara Aneka Ria Safari, Kamera Ria dan Album Minggu kala itu, tapi dia tidak sempat nongkrong di Inbox, Dasyat apa lagi Dering... hik.. hik... keburu tua sih. Akan tetapi sampai detik ini saya masih simpan lho lagunya, malah sekarang aku masukan ke Hape heeee... bukan kaset lagi tapi MP3 formatnya.

Tidak terlalu lama menunggu untuk sekuel-sekuel berikutnya pada Saur Sepuh, beberapa waktu kemudian dibuatlah, Pesanggrahan Keramat, Kembang Gunung Lawu, Titisan Darah Biru dan sekuel terakhirnya yaitu Saur Sepuh V, Istana Atap Langit. Nah menurut saya nih.. yang mengikuti film itu dari awal, maka tersimpulkan episode Saur Sepuh yang terbontot lah yang paling keren, yaaaa... lihat cara mereka fighting sudah mirip film Wong Fei Hung kan..? yupe benar karena Edy S. Jhonatan selaku fighting director sudah sangat berpengalaman dalam bidangnya, gambar yang ditayangkan juga lebih dramatis, walau banyak adegan malam hari, musik pengiringnya keren habis chyiiiiinn, tapi saya agak bingung kok mereka pakai kostum Bali? kan pada cerita awal madangkara itu di jawa barat booo, pasundan, kok jadi pakai baju bali gitu dengan bunga kamboja di kuping dan titik 3 buah dekat pelipis mata. Terus juga Lasmini yang saat itu menikah dengan seorang laki-laki kerajaan malaka malah istananya bergaya Dayak Iban heeee. Ah gak tau tuh yang ngurusin art directornya siapa. Tapi yang penting keren.....
                                                (Ini dia nihh poster layar lebar Saur Sepuh I)

                                           (Dan ini cover kaset album soundtrack nya hiiii...iiii)

Nah seru kan Saur Sepuh pamornya kala itu, aku yakin tidak akan terlupakan sepanjang masa sampai kiamat melanda alam semesta heeee lebayyyyy. Oh iya, setelah berhenti tanpa kabar di sekuel yang kelima itu, serial sandiwara radio ini juga ikut unjuk gigi lho pada era awal kejayaan sinetron indonesia, yah pada tahun 1989 silam kan tumbuh pelopor televisi swasta nasional yang memberi nafas baru buat kita (karena tiap hari nonton TVRI muluuuuuu yang ribut ngiklanin iuran televisi, yang hitam putih Rp. 3500 per bulan, yang berwarna Rp.5000 perbulan, aduhhhhhh gimana gak sesak nafas ..muntah kaleng gua jadinya..) dialah RCTI yang tidak lama kemudian di ikuti oleh SCTV dan TPI serta seterusnya. Nah.. dulu tahun 1994 pernah ditayangkan juga nih Saur Sepuh versi serial TV pertamanya di TPI (hari itu masih Televisi Pendidikan Indonesia hiiiiii...), yang tayang setiap rabu jam 9:30 pagi, Brama Kumbara diperankan oleh George Rudi, Mantili pertama diperankan oleh cewek yang belum punya nama kala itu namun setelah beberapa episode Elly Ermawati kembali dipajang memerankannya, kemudian Lasmini diperankan oleh cewek hasil casting di Yogyakarta bernama Inung Risma Dara, yupe secara ini shooting di Jogja bu, kalau gak salah itu Graj. Koesmurtiah juga main jadi Ibunya Brama. kemudian setelah tayang di TPI pada tahun 1995 atau 1996 PT. Genta Buana Pitaloka membuatnya lagi dengan gaya lebih fresh.. diberi judul baru "Singgasana Brama Kumbara", sinetron kolosal ini diperankan oleh artis yang naik daun kala itu seperti Anto Wijaya, Shahnaz Haque, Viona Rosalina, Raslina Rashidin dan masih banyak lagi, musik digarap oleh Hari Sabar hooooo, set di buat di cibubur dengan megah, dan sinetron ini tayang di AN teve yang kala itu masih berslogan "wooooowww kereeeeen".

Tutur Tinular 
Berikutnya setelah saur sepuh sukses di telinga masyarakat Indonesia, sandiwara radio yang berlatar belakang legenda indonesia banyak bermunculan, salah satunya yaitu Tutur Tinular. Sandiwara radio ini kisahnya dilatar belakangi oleh kerajaan Majapahit pada masa Kertanegara. Tokoh utama dalam serial sandiwara radio ini yaitu Arya Kamandanu yang masa itu juga diperankan oleh Ferry Fadli, kemudian ada pendekar wanita dari negeri China yang bernama Mei Shin diperankan oleh Elly Ermawati yang kemudian menjadi istri Arya Kamandanu walau sebentar dan selain itu ada pendekar lengan seribu Sakawuni yang di sulih suarakan oleh Ivone Rose. Eh... kalau melihat trio tokoh utama ini kok lagi-lagi diperankan oleh trio pengisi suara di Saur Sepuh heeee, biar sama ngetopnya kali.

Sama seperti pendahulunya yaitu saur sepuh, Tutur Tinular ini juga di serial radionya berhasil membuat para warga rela meninggalkan warung, menunda tanam padi, lupa kalau lagi masak dan juga menempelkan anak-anak di dekat jendela kaya cicak demi untuk mengikuti kisah silat dan percintaan dari Arya Kamandanu, Mei Shin dan Sakawuni dalam Tutur Tinular ini.... huuuuufft capeee dehhh. Karya dari S. Tijab ini menceritakan tentang seorang pendekar yang bernama Arya Kamandanu yang jadi murid dari Mpu. Ranubaya. Suatu saat Ranubaya diculik oleh tentara mongol dan di bawa ke negeri itu demi untuk membuat sebilah pedang. Di bawah kekuasaan Kubilai Khan Mpu. Ranubaya berhasil menciptakan mahakarya sebuah pedang yang sakti diberinama Pedang Naga Puspa, karena kehebatan pedang itu Khubilai Khan ingin memilikinya, karena Ranubaya tahu kaisar itu jahat, maka pedang itu di serahkan ke sepasang suami istri pendekar yaitu Lao Shi Shan dan Mei Shin. Dengan memiliki pedang itu sepasang suami istri ini pun menjadi buronan kerajaan mongol hingga mereka meninggalkan negeri itu setelah Ranubaya wafat di perjalanan. Mereka menuju ke Jawa Dwipa. Setelah sampai dan terdampar di perairan madura Lao Shi Shan dan Mei Shin pun kembali menjadi buronan para pendekar jawa karena (terpesonaaaaa ealaaaaahh jaran..) oleh pedang naga puspa itu.

Dalam sebuah pertempuran akhirnya Lao Shi Shan tewas, dan Arya Kamandanu yang menolong Mei Shin kala itu pun jatuh hati dan mereka menikah walau akhirnya Mei Shin diperkosa dan melahirkan anak blesteran bernama Ayu Wandira dari Arya Dwipangga abang kandung Kamandanu.

Mei Shin menjadi seorang tabib yang jago kung fu setelah diselamatkan oleh Bapak Wong (Eh.. jangan-jangan Wong Chi Ying ya papahnya Wong Fei Hong... hii... hii kan jago obat juga dia bo..), dan mengganti namanya menjadi Nyai Paricara untuk kemudian berhasil mengobati Raja Majapahit.

Setelah Tutur Tinular habis di radio masih ada sekuelnya yaitu Mahkota Mayangkara, ini mengisahkan Majapahit dibawah kuasa Jaya Negara dan sedikit menyentuh kisah Gajah Mada. Anyway.... sandiwara radio ini juga diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi yang sama dan partner yang sama juga yaitu Kanta Indah Film dan Kalbe Farma. Episode pertama yaitu Pedang Naga Puspa yang diperankan oleh Benny Raharjo sebagai Arya Kamandanu, Elly Ermawati sebagai Mei Shin (Teteeeep... maksa sih, kan gak oriental) dan Diah Permata Sari sebagai Sakawuni. Cukup sukses di bioskop theater waktu itu, masih ingat deh aku kala itu kelas 3 SD nonton naik sepeda ke bioskop, pulangnya bokap ngamuk heeeeeee..... kecil-kecil main di bioskop.. katanya, ya maklum ini gara-gara era film panas ala inneke koesherawati dan laila anggraini kala itu tuh.....

Tutur Tinular dalam format layar lebar ini berhasil bertahan hingga sekuel ke empatnya, dalam setiap sekuel tokoh utama Arya Kamandanu selalu digantikan oleh aktor lain dari Benny G Raharjo, Sandy Nayoan dan Joseph Hungan. Sementara Mei Shin bertahan oleh Linda Yanoman yang ahli Kung fu beneran dari sekuel ke dua hingga ke empat, sakawuni juga oleh Muri Saridewi.

Setelah sukses di layar lebear di era sinetron kembali Genta Buana Pitaloka membuat serialnya, kali ini Tutur Tinular dan Mahkota Mayangkara di satukan menjadi Tutur Tinular 1 dan Tutur Tinular 2 yang ditayangkan oleh stasiun televisi yang berbeda yaitu Anteve dan Indosiar. Genta Buana Pitaloka sangat serius dalam menggarap sinetron kolosal ini, tidak tanggung-tanggung mereka menggandeng CCTV china untuk bekerja sama dan menggaet artis asal China yaitu Lie Yun Juan sebagai Mei Shin hingga akhir episode. Fighting direktor selain oleh Eddy S. Jhonatan juga digandengkan dengan fighting director asal negeri tirai bambu tersebut, dan hasilnya adalah sebuah sinetron silat kolosal yang sangat indah dipandang mata (Aduhh.. lebay lagi dech....).
                                                (Poster Tutur Tinular Pedang Naga Puspa)

                                                  (Ini Salah Satu Episode versi Sinetronnya)

Oh ya dulu jaman aku SD juga kira-kira tahun 1993, Mahkota Mayangkara pernah diangkat ke sinetron layar kaca oleh Genta Buana Pitaloka, dengan tokoh utama Ayu Wandira putri Mei Shin yang diperankan oleh Ayuni Sukarman dengan sangat pas, sementara Mei Shin yang hanya muncul beberapa episode di perankan oleh Yurike Prastica. Sinetron ini tayang di TPI hari sabtu jam 11:00 siang dengan 30 menit durasi dan di seponsori oleh Rinso yang iklannya 15 menit, jadi total seminggu kita nonton 15 menit doang..... ampuni aku kakang...

Babad Tanah Leluhur
Ada lagi lhooo... jangan beranjak dulu... selain dua sandiwara radio di atas, ada lagi yang mengekor sukses dia adalah Babad Tanah Leluhur. Berkisah mengenai sebuah kerajaan pasundan yaitu Karang Sedana. Dengan tokoh utama murid perguruan Ning Sewu yaitu Saka Palwaguna, Anting Wulan, Seta Keling dan
Dampu Awu. Sandiwara ini juga cukup suskses lho seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinular. Berhasil di jinjing ke layar lebar oleh Kanta Indah Film dan PT Dankos Laboratories Indonesia menjadi 2 sekuel saja. Episode perdana berjudul Rahasia Bukit Tengkorak dan sekuelnya adalah Banyu Chakra Buana. Diperankan oleh Lam Ting dan Firia Anwar.
                                                      (Babad Tanah Leluhur layar lebar)

                                                     (Adegan Babad Tanah Leluhur)

Misteri Gunung Merapi
Sandiwara radio ini sesungguhnya adalah legenda horor dari padang sumatra barat, entah kenapa sebabnya saat tayang dan sukses di sinetron hingga sampai Misteri Gunung Merapi 6 kok ceritanya dipindah jadi kerajaan mataram islam yaaaa, boyong ke jawa.... heeeeeeee, padahal kalau kita pikir sebutan "Mak.." itu  kan hanya untuk bangsa melayu dan kerabatnya termasuk suku padang. Kalau di jawa seharusnya jadi Nini Lampir bukan Mak Lampir. Heeee heeee ya wanita bermuka hijau yang sangat populer ini apa lagi anak-anak kalau nonton sinetronya nenek ini gak keluar anak-anak pada keki dengan polosnya... Mamah.... mak lampir kemana......... cerita ini sangat sukses di radio, di layar lebar digarap dengan serius dengan seting sumatra barat yang kental, dan di ankat ke sinetron juga serus lhoooooo, sampai sekuel ke 6 booooooo mengalahkan tersanjung hingga penonton semua muntah kaleeeengggg.....
                                                      (Misteri Gunung Merapi Layar Leber)

                                                               (Versi Sinetron nya booo)


                                                              (Mak Lampir Idola Anak2)


Legenda Lain Yang Hilang Ditelan Zaman
Nah itulah kira-kira gambaran betapa kaya nya negeri kita tercinta ini dengan cerita legenda, yang sepatutunya menjadi bahan cerita untuk anak dan cucu kita hingga akhir nanti. Selain cerita yang saya tulis diatas masih banyak lagi lhooo yang belum disebutkan, antara nya yaitu kisah Ramayana dan Mahabaratha, walaupun Genta Buana Pitaloka telah  merangkumnya dengan bagus lewat serial Karmapala dulu. Cerita atau dongeng masa kanak-kanak seperti timun mas, barung klinthing, atau tentang legenda danau dan gunung di negeri ini teramat banyak untuk di ulas.


Namun semua itu sepertinya tidak akan pernah atau malah tidak akan mungkin seperti cerita Bai Shi Zhuan (Pai Shu Chen) dari negeri china yang sampai seluruh dunia tahu. Atau cerita Krisna si anak kecil sakti berkulit biru dari India, atau malah cerita Herkules, dan lainya yang sampai sekarang semua orang di antero dunia ini tahu. Ini adalah tugas berat bagi kita semua untuk melestarikan kisah dan legenda indonesia.


Para sineas muda indonesia yang terhormat, kenapa harus malu-malu kutu untuk menggarap cerita legenda indonesia, liat aja kalau di dunia produksi sinetron, ditanya mau bikin apa? jawabnya " kolosal ", whats...... kolosal, artis pun seolah enggan dan memasang tarif tinggi untuk mengenakan pakaian tradisional dengan alasan ribet. Para rumah produksi berdalih malas membuat sinetron legenda dengan dalih, biaya besar, ribet pesan kostum, art set, dan ini dan itu. Sehingga mereka membuat tayangan legenda di tv dengan asal-asalan, mana ada cerita timun mas kok setingnya jaman sekarang. Mereka semua beralasan ingin mem-pop kan cerita itu, dengan inti sama namun seting berbeda, namun apa terpikirkan oleh mereka bahwa ini akan menutupi essensial sesungguhnya, karena ini tidak mempamerkan mewahnya pakaian adat tradisi kita, dandanan rambut orang tempo dahulu, mewahnya kerajaan dan lain sebagainya.

Memang sih targetnya anak-anak tapi di situlah letaknya, anak jaman sekarang darimana lagi harus mempelajari budaya indonesia sesungguhnya kalu begini caranya. Yang di dapat malah mereka juga malas nonton, ya,,,,,.... dong.... secara masih banyak cerita dari luar dengan kemasan yang keren, animasi bagus dan lain sebagainya. Lihat saja Little Krishna, itu kalau dipikir kan cerita pewayangan, kalau suku jawa mungkin biasa dengar dari kakek kita yaaaa, membosankan gak..., atau lihat wayang langsung .. bosan gak..., ? jawabnya .."ya.. iya lah.... secara ribet and rumit gitu..". tapi dengan kemasan animasi yang bagus dan halus Little Krishna gimana....? bahkan orang dewasa pun suka melihatnya.

Yah.. mau gak mau banyak jempol untuk Genta Buana Pitaloka yang telah mengangkat cerita legenda hingga jadi top rating di TV, itu adalah kerja bagus. walau sekarang kalian itu entah keracunan apa sejak ganti nama jadi "Paramitha" kok produknya asal-asalan. Ayo bangkit... lestarikan budaya nusantara.. dengan kemajuan yang ada demi lestarinya untuk anak cucu kita. (Dede Loo/13-03-10)