Entri Populer

Selasa, 06 Desember 2011

Fakta Sejarah Yang Disamarkan


Apakah Kita Sudah Menghargai Sejarah…?
Nyo Lai Wa… Seorang Penguasa Majapahit Keturunan China dan Fakta Runtuhnya Kerajaan Super Besar Kebanggaan Rakyat Jawa Oleh Budaya Islam

Apabila kita mengingat masa dimana kita masih duduk dibangku sekolah dahulu, pelajaran sejarah terutama sejarah nasional teramat sangat pendek, dimulai dari zaman pra sejarah kemudian zaman kerajaan  dilanjutkan dengan datangnya bangsa portugis selaku penjajah, bangsa belanda, jepang dan kemudian masa revolusi bangsa ini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sungguh teramat pendek dan dangkal sekali, di sini terlihat sekali  bahwa banyak fakta-fakta yang justru teramat penting tetapi sengaja dikubur dan tidak di ungkapkan ke generasi selanjutnya. Banyak alasan yang menyelimuti mengapa fakta ini tidak dan sengaja tak terungkapkan. Mulai dari kekawatiran segelintir orang yang menyebut dirinya penguasa akan jatuhnya reputasi dari faham yang mereka anut, sampai dengan pendapat akan satu hal “sebegitu besarkah peran orang asing itu di negeri ini”..? pendapat-pendapat itu sungguh naif apa bila kita pikir, suatu bangsa tidak mungkin akan tumbuh besar sendiri tanpa pengaruh dari bangsa lain, pengaruh bangsa lain pun tidak selamanya akan menguntunkan bagi suatu bangsa, bahkan bisa menghancurkan seperti kejadiar ratusan tahun yang silam dimana kerajaan-kerajaan hindu budha yang teramat masyur, salah satunya adalah kerajaan besar kebanggaan rakyat jawa yaitu Majapahit yang hancur akibat ideology islam yang keras dan tidak cocok diterapkan.

Berikut ini adalah kisah yang bisa kita sebut fakta yang telah lama terpendam dan teronggok di mana-mana ,…

Inilah daftar Raja-Raja Majapahit sesuai penuturan Pararaton, Nagarakrêtagama dan beberapa prasasti yang ditemukan serta Kronik Tionghwa, klenteng Sam Po Kong, Semarang :

1.        Nararyya Sanggramawijaya mengambil abhiseka (gelar) Sri Krêtarajasa Jayawarddhana  (1294-1309 M), wafat di Antahpura

2.        Sri Jayanagara mengambil abhiseka (gelar) Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309-1328 M). Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Daha I. Dicandikan di Kapopongan, nama candi Srênggapura. Arcanya dibangun di Antawulan. 

3.        Rani Wijayatunggadewi mengambil abhiseka (gelar) Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwarddhani (1328-1350 M). Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Kahuripan I. Dicandikan di Panggih, nama candi Giri Pantarapura. 

4.        Sri Hayam Wuruk mengambil abhiseka (gelar) Sri Rajasanagara Sang Hyang Wêkasing Sukha (1350-1389 M). Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Kahuripan II.

5.        Aji Wikrama atau Wikramawarddhana mengambil abhiseka (gelar) Sri Hyang Wisesa, Orang China mengenalnya sebagai Yang Wi Si Sa (1389-1427 M). Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Mataram I. Wafat di Indrabhawana, dicandikan di Tanjung, nama candi Paramasukha Pura

6.        Sri Ratu Prabhu Stri  mengambil abhiseka (gelar) Rani Suhita. Orang China mengenalnya dengan nama Su King Ta (1427-1447). Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Pajang II  lalu Bhre Daha IV. Dicandikan di Singajaya.

7.        Bhre Tumapel II dikenal sebagai Krêtawijaya (1447-1451 M). Setelah beliau wafat, candinya dinamakan Krêtawijaya Pura

8.        Sri Krêtarajasa (atau mungkin Bhre Pamotan I Rajasawarddhana Dyah Wijayakusuma) mengambil abhiseka (gelar) Sri Rajasawarddhana Sang Sinagara (1451-1453 M). Dicandikan di Sêpang.

Kemudian Negeri itu Kosong selama tiga tahun.

9.        Bhre Wêngkêr II mengambil abhiseka (gelar) Hyang Purwawisesa (1456-1466 M), dicandikan di Puri

10.      Bhre Pandhan Salas III, dua tahun menjadi Raja lantas meninggalkan istana (1466-1468 M)

11.      Sri Singawarddhana (1468-1474 M)

12.      Bhre Krêtabhumi. Orang China mengenalnya dengan nama Kung Ta Bu Mi (1474-1478 M) Sebelumnya menjabat sebagai Bhre Kêling IV. Wafat dimakamkan di pemakaman Tralaya.


Sepeninggal Prabhu Hayam Wuruk pada tahun 1389 Masehi, tahta lantas diserahkan kepada Bhre Mataram I atau Wikramawarddhana, menantu sekaligus kemenakan beliau. Wikramawarddhana adalah putra tertua dari Bhre Pajang I atau Rajasadhuhiteswari, adik kandung Prabhu Hayam Wuruk yang menikah dengan Raden Sumana atau Bhre Paguhan I. Wikramawarddhana menikahi putri Prabhu Hayam Wuruk, Kusumawarddhani.

Dari pernikahan tersebut, lahirlah Hyang Wekasing Sukha. Sedangkan dari selir, Wikramawarddhana memiliki satu putri dan dua putra.  Putri sulung bernama Sri Ratu Prabhu Stri yang kelak terkenal dengan gelar Rani Suhita, kedua Bhre Tumapel II yang kelak terkenal sebagai Krêtawijaya dan yang bungsu adalah Bhre Tumapel III atau Sri Krêtarajasa.

Sepeninggal Wikramawarddhana, tahta diserahkan kepada Sri Ratu Prabhu Stri pada tahun 1427 Masehi karena putra mahkota, Hyang Wekasing Sukha sudah meninggal diusia muda pada tahun 1311 Saka atau 1389 Masehi, tepat saat tahta baru dilimpahkan dari Prabhu Hayam Wuruk kepada Wikramawarddhana.

Sri Ratu Prabhu Stri atau Rani Suhita menikah dengan Aji Ratna Pangkaja atau Bhre Kahuripan V, putra sulung pasangan Surawarddhani atau Bhre Pawanawan I, putri bungsu Prabhu Hayam Wuruk dengan Raden Sumirat atau Bhre Pandhan Salas I. Raden Sumirat adalah putra Raden Sotor. Sedangkan Raden Sotor adalah saudara tiri Prabhu Hayam Wuruk.

Sepeninggal Rani Suhita, karena tidak dikaruniai seorang putra, maka tahta disepakati akan dipegang oleh kedua adik Rani Suhita secara bergiliran. Pertama kali yang dilimpahi tahta adalah Bhre Tumapel II atau Krêtawijaya pada tahun 1447 Masehi. Pada tahun 1451 Masehi, Bhre Tumapel II atau Krêtawijaya wafat, dicandikan dengan nama resmi candi Krêtawijaya Pura. Setelah Krêtawijaya, Pararaton, tidak begitu jelas dan terlalu singkat menguraikan siapa penggantinya. Bisa jadi adalah Krêtarajasa, adik bungsunya. Dan Krêtarajasa inilah yang dikenal dengan gelar Rajasawarddhana Sang Sinagara. Dan sosok inilah yang disebut-sebut sebagai ayah dari Bhre Mataram, Bhre Kahuripan, Bhre Pamotan dan Krêtabhumi dalam akhir Pararaton. Jika benar, maka ungkapan bahwa Bhre Pandhan Salas III adalah kemenakan dari keempat bersaudara ini, maka bisa ditetapkan bahwa Bhre Pandhan Salas III adalah putra Bhre Wêngkêr II yang menikah dengan Bhre Matahun II.

Namun menurut Prasasti Waringin Pitu, tahta lantas dilimpahkan kepada keponakan Krêtawijaya, putra Bhre Tumapel II atau Krêtarajasa yang sulung, yaitu Bhre Pamotan I Rajasawarddhana Dyah Wijayakusuma atau Rajasawarddhana Sang Sinagara pada tahun 1451 Masehi. Jadi yang dikenal sebagai Sang Sinagara menurut prasasti Waringin Pitu, tak lain adalah putra Krêtarajasa, keponakan Krêtawijaya.

Surawarddhani dan Raden Sumirat atau Bhre Pandhan Salas I menurut Pararaton memiliki satu orang putra dan tiga orang putri. Yang sulung Bhre Kahuripan V atau Aji Ratna Pangkaja, yang menikahi Rani Suhita, kedua Sang Ratu di Mataram yang dinikahi oleh Wikramawarddhana, ayah Rani Suhita (jadi adik Aji Ratnapangkaja dinikahi oleh mertuanya sendiri), ketiga Bhre Lasem IV yang dinikahi Bhre Tumapel II atau Krêtawijaya, adik Rani Suhita dan yang keempat Bhre Matahun II yang dinikahi oleh Bhre Wêngkêr II anak dari Krêtawijaya. Pernikahan ini sangat unik, dimana adik-adik Aji Ratna Pangkaja dinikahi oleh Wikramawarddhana, anak Wikramawarddhana (Bhre Tumapel II atau Krêtawijaya) dan cucu Wikramawarddhana (Bhre Wêngkêr II, anak Krêtawijaya).

Bhre Tumapel II atau Krêtawijaya, menikah dengan Bhre Lasem IV, adik dari Aji Ratna Pangkaja, putri Surawarddhani dan Raden Sumirat atau Bhre Pandhan Salas I seperti disebutkan diatas. Dari hasil pernikahan itu lahirlah Bhre Wêngkêr II dan Bhre Paguhan III.[1] Sedangkan Bhre Tumapel III atau Krêtarajasa atau Rajasawarddhana, memiliki tiga orang putra, yaitu Bhre Pamotan I Rajasawarddhana Dyah Wijayakusuma, kedua Bhre Wêngkêr III Girisyawarddhana Dyah Suryawikrama dan Bhre Pandhan Salas III Singawikramawarddhana Dyah Suraprabhawa.

Bhre Pamotan I Rajasawarddhana Dyah Wijayakusuma juga dikenal sebagai Sang Sinagara, memiliki empat orang putra yaitu Bhre Kahuripan VII Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya, Bhre Mataram V Girindrawardhana Dyah Wijayakarana, Bhre Pamotan II dan Bhre Kêling IV atau Bhre Krêtabhumi.

Sepeninggal Rajasawarddhana Sang Sinagara pada tahun 1453 dan dicandikan di Sêpang, terjadi perebutan tahta antara putra-putra Krêtawijaya dan Rajasawarddhana Sang Sinagara. Terjadi ketegangan sehingga tahta kosong selama tiga tahun (1453-1456 M). Baru pada tahun 1456, terpilih sebagai Raja adalah Bhre Wêngkêr II, putra sulung Krêtawijaya yang lantas mengambil gelar Hyang Purwa Wisesa. Memerintah hingga tahun 1466 Masehi, wafat dan dicandikan di Puri. Sepeninggalnya, seharusnya tahta dilimpahkan kepada keturunan Rajasawarddhana Sang Sinagara, namun berhasil diduduki oleh putra bungsu Krêtawijaya, adik Rajasawarddhana Sang Sinagara, yaitu Bhre Pandhan Salas III atau Singawikramawarddhana Dyah Suraprabhawa. Selama pemerintahannya, keadaan istana terus terjadi ketegangan, sehingga baru dua tahun menduduki tahta, Bhre Pandhan Salas III meninggalkan istana. Lantas siapakah yang mengantikannya sebagai Raja Majapahit? Apakah keturunan Krêtawijaya atau Rajasawarddhana Sang Sinagara? Penuturan Pararaton terhenti sampai disini.

Baru pada tahun 1486 Masehi, Sri Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya mengeluarkan prasasti Jiyu yang berisi maklumat bahwa dirinya adalah penguasa Wilwatikta (Majapahit), Janggala dan Kadhiri. Disana juga menguraikan pengukuhan ulang hadiah tanah kepada Bharmaraja Ganggadhara yang pernah dilakukan oleh Singawarddhana. Ini membuktikan, bahwa sosok Singawarddhana berkuasa menghadiahkan tanah kepada seorang Brahmana, dan tentunyalah dia seorang Raja. Dalam prasasti Jiyu juga ditegaskan, pada tahun 1486 tersebut adalah bertepatan duabelas tahun wafatnya Singawarddhana sehingga Sri Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya mengadakan upacara Sraddha.

Maka jelaslah sudah, setelah kepergian Bhre Pandhan Salas III, tahta Majapahit berhasil diduduki oleh Singawarddhana hingga tahun 1474 Masehi. Siapakah Singawarddhana? Bisa jadi, Singawarddhana adalah kakak kandung Girindrawarddhana, dan keduanya adalah putra Bhre Pandhan Salas III yang pernah meninggalkan istana Majapahit. Dari sini bisa disimpulkan, setelah kepergian Bhre Pandhan Salas III, tahta lantas direbut oleh Singawarddhana sebelum dikuasai oleh keturunan Bhre Pamotan I Rajasawardhana Dyah Wijayakusuma. Lantas siapakah yang menggantikan Singawarddhana? Tak ada keterangan yang bisa didapatkan. Namun dari catatan China yang ditemukan di Klenteng Sam Po Kong Semarang oleh Residen Poortman pada tahun 1928, diketahui bahwa Raja Majapahit yang memerintah sebelum tahun 1478 Masehi adalah Kung Ta Bu Mi atau Bhre Krêtabhumi. Siapakah sosok ini? Dalam Pararaton nama Krêtabhumi disebut jelas sebagai putra Rajasawarddhana Sang Sinagara.

Dari sini bisa disumpulkan, semenjak kekosongan tahta Majapahit pada tahun 1453-1456, keturunan Rajasawarddhana Sang Sinagara baru bisa memerintah pada tahun 1474 dan berakhir pada tahun 1478 Masehi. Masa akhir pemerintahan Krêtabhumi inilah yang terus menjadi polemik berkepanjangan hingga sekarang. Menurut kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong, kejatuhan Krêtabhumi diakibatkan serangan tentara Demak Bintara. Namun ada juga yang menolak mentah-mentah data ini dan memunculkan hipotesa bahwa Sri Girindrawarddhana yang telah mengeluarkan prasasti Jiyu diatas adalah yang menyerang Krêtabhumi. Hipotesa ini bisa dimaklumi karena jika hal itu benar, maka Jim Bun atau Raden Patah sebagai Adipati Demak yang notabene adalah salah satu pemimpin masyarakat Islam diabad 15, selamat dari tuduhan durhaka kepada Krêtabhumi, ayah kandungnya sendiri yang beragama Siwa Buddha (Buda). Pengkambing hitaman sosok Girindrawarddhana ini terus digulirkan hingga sekarang. Walau cerita tutur masyarakat dari berbagai daerah jelas-jelas menunjukkan Raden Patah-lah yang berhasil menjebol Majapahit, didukung pula oleh berita dalam berbagai Babad Jawa dan juga berita dari kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong, Semarang, namun seolah-olah, data ini hendak ditenggelamkan begitu saja. Girindrawarddhana tetap dianggap bersalah walau data-data belumlah lengkap untuk menghakimi sosoknya.

Salah satu berita yang termuat dalam Prasasti Petak menyebutkan Kadigwijayanira sang munggwing jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit (“Kemenangan Sang Munggwing Jinggan yang berhadapan dimedan perang melawan Majapahit”).  Menyiratkan ada penyerangan ke Majapahit oleh sosok Sang Munggwing Jinggan. Siapakah Sang Munggwing Jinggan ini? Diperkiraan, Sang Munggwing Jinggan adalah kakak sulung Bhre Krêtabhumi, yaitu Bhre Kahuripan VII Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya. Lantas siapakah yang diserang? Tentunya adalah sosok yang pernah merebut tahta Majapahit, yaitu Bhre Pandhan Salas III. Namun bukankah Bhre Pandhan Salas III telah meninggalkan istana semenjak tahun 1468? Padahal prasasti Petak terbit sekitar tahun 1486, seusia dengan prasasti Jiyu? Berarti penyerangan itu terjadi tak jauh dari tahun 1486 tersebut. Dan yang menjadi pertanyaan, mengapa yang menerbitkan malah putra Bhre Pandhan Salas III yaitu Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya yang terhitung rival dari Sang Munggwing Jinggan?

Hal ini menjadi terjawab manakala dicompare dengan informasi dari kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong Semarang. Bahwasanya yang diserang oleh Sang Munggwing Jinggan, adalah sosok Raja boneka Majapahit yang diangkat oleh pemerintahan Demak Bintara, Nyo Lay Wa semenjak tahun 1478 Masehi! Dalam kronik tersebut jelas-jelas menyebutkan, bahwa pemerintahan Nyo Lay Wa memang berakhir pada tahun 1486, sesuai dengan tahun dimana prasasti Jiyu dan Petak dikeluarkan! Dan dari kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong Semarang itu pula, didapatkan informasi, bahwa Demak telah menginvasi Majapahit pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi, delapan tahun sebelum penyerangan Sang Munggwing Jinggan yang mungkin bersekutu dengan keluarga Bhre Pandhan Salas III !

Dan menjadi sangat masuk akal jika Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya lantas mengeluarkan sebuah maklumat bahwa dirinyalah sekarang Raja Majapahit yang kembali terbebas dari dominasi Demak, walau wilayahnya sekarang hanya sebatas Wilwatikta, Janggala dan Kadhiri. Sehingga dia memakai gelar (abhiseka) Sri Wilwatikta Jenggala Kediri Prabhu Natha

Kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong Semarang menguraikan, bahwa pada tahun 1478, Jim Bun, putra selir Kung Ta Bu Mi, Raja Majapahit, menyerang istana Majapahit dan memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Setelah berhasil menjatuhkan Majapahit, diangkatlah seorang Raja bawahan di Majapahit bernama Nyo Lay Wa. Yang dimaksud dengan Kung Ta Bu Mi, tak lain adalah Bhre Krêtabhumi. Ini berarti, setelah Bhre Krêtabhumi berakhir masa pemerintahannya pada tahun 1478, Majapahit memang sudah kehilangan kedaulatannya dan menjadi wilayah Demak Bintara. Dan semenjak saat itu, Raja yang berkuasa di Majapahit adalah peranakan China bernama Nyo Lay Wa (1478-1486 M)

Disebutkan disana dalam catatan tersebut, Nyo Lay Wa tewas dalam sebuah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1486. Dan disusul kemudian dengan keluarnya prasasti Jiyu oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya seperti telah disebutkan diatas, yang merupakan sebuah maklumat kedaulatan Majapahit walau wilayahnya kini sebatas Wilwatikta, Janggala dan Kadhiri. Ditambah pula prasasti Petak yang menceritakan kehebatan Sang Mungwing Jinggan saat menggempur istana Majapahit hingga berhasil direbut kembali dari kekuasaan Demak Bintara, walau Sang Munggwing Jinggan, akhirnya gugur dimedan pertempuran.

Dan berlanjut, dalam kronik Tionghwa dicatat bahwa pada tahun 1517, Demak kembali melakukan penyerangan ke Majapahit yang sudah menyatakan lepas dari kekuasaannya. Penyerangan ini dipimpin oleh Yat Sun, putra Jim Bun. Raja Majapahit saat itu disebut dengan nama Pa Bu Ta La. Yat Sun tak lain adalah Adipati Yunus yang dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor karena pernah menyerang ke wilayah utara, yaitu Malaka untuk menggempur Portugis pada tahun 1512, setahun setelah Malaka dikuasai Portugis. Pada prasasti Jiyu jelas ditemukan bahwa Girindrawarddhana menyebut dirinya sebagai Prabhu Natha. Pa Bu Ta La yang dimaksud dalam kronik Tionghwa jelas tak lain adalah Prabhu Natha alias Sri Wilwatikta Janggala Kadhiri alias Girindrawardhana Dyah Ranawijaya! Yang menjadi pertanyaan, mengapa penyerangan Demak ini begitu terlambat semenjak direbutnya tahta Majapahit dari tangan Nyo Lay Wa pada tahun 1486 dan baru diserang pada tahun 1517? Hal ini bisa dijawab bahwasanya, Demak sedang pontang-panting mengkonsolidasikan kekuatannya untuk menundukkan wilayah-wulayah Majapahit yang lain. Disamping juga membantu prajurid Cirebon dan Banten untuk menundukkan Pajajaran. Ditambah menghadapi kedatangan Portugis di Malaka. Konsentrasi Demak masih terfokus pada menyelamatkan wilayah sepanjang pesisir pantai utara yang strategis.

Majapahit berhasil ditundukkan untuk kedua kalinya. Pa Bu Ta La tidak dijatuhi hukuman, mengingat dia adalah menantu Kung Ta Bu Mie, masih saudara dengan Jim Bun. Namun kota dan istana Majapahit, habis dirampas oleh tentara Demak.

Dan pada tahun 1527, saat Demak diperintah oleh putra Jim Bun, Tung Ka Lo, kembali dia mengirimkan angkatan perang Demak dibawah pimpinan putranya Toh A Bo untuk membumi hangguskan Majapahit. Tung Ka Lo bisa diidentifikasi sebagai Sultan Demak ke tiga Trênggana, sedangkan Toh A Bo bisa diidentifikasi sebagai Pangeran Timur, putra Sultan sendiri. Pembumihangusan ini terkait usaha Pa Bu Ta La yang hendak mengadakan kerjasama dengan Portugis, melalui Pate Vira, seorang Adipati Tuban. Hal ini tercatat dalam catatan orang Portugis Suma Oriental. Pada tahun 1513, pengembara Portugis bernama Tome Pires mengunjungi Jawa Timur. Dia berdiam di Malaka dari 1512 sampai 1515 dan menuliskan kisah perjalanannya dalam buku Suma Oriental (Catatan Dunia Timur). Tome Pires mengatakan bahwa raja Jawa saat itu adalah Batara Vigiaya, dan raja sebelumnya adalah Batara Mataram, yang menggantikan ayahnya, Batara Sinagara. Informasi ini diperoleh Tome Pires dari Pate Vira (Adipati Wira), penguasa Tuban yang beragama Islam tetapi sangat setia kepada Batara Vigiaya. Inilah penyerangan ke tiga yang benar-benar melenyapkan Majapahit dari muka bumi.

Apa yang direkam semua Babad Jawa mengenai kehancuran Majapahit oleh serangan Demak, adalah benar. Sebuah peristiwa besar, peristiwa yang sanggup mengguncangkan kebanggaan orang Jawa, tentu saja akan terekam dalam dari generasi ke generasi. Dari pelosok timur hingga barat, semua cerita tutur Jawa yang kita dapati hingga saat ini, tak ada yang kontradiktif. Semua merujuk pada satu hal, bahwa Majapahit, Negara besar yang pernah ada di Jawa, hancur oleh serangan militant Islam Demak. Baru memasuki era berdirinya NKRI, wacana penolakan bermunculan dari mereka yang merasa terpojokkan. Dimana-mana, usaha untuk menghindarkan Demak sebagai kambing hitam terjadi. Dan Girindrawarddhana diposisikan sebagai pihak yang harus dipersalahkan. Darmagandhul, adalah salah satu serat yang mengadopsi ingatan kelam ini. Tuturan Darmagandhul, mengenai kehancuran Majapahit oleh Demak adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Beberapa keluarga bangsawan Bali, adalah bukti nyata bahwa pernah terjadi eksodus besar-besaran dari Jawa ke Bali akibat keguncangan politik tersebut. Suku terasing di kaki gunung Bromo, suku Tengger, juga merupakan keturunan dari mereka yang menolak masuk Islam. Cerita tutur leluhur mereka, Jaka Sêgêr dan Rara Antêng, yang mengungsi ke pedalaman Bromo akibat desakan tentara Demak, masih bisa kita dengar hingga sekarang.

Kisah seperti diatas lah yang “memungkinkan” mengapa sejarah kelam itu tidak dimasukan kedalam kurikulum pelajaran sejarah di sekolah…, mengenai peran dari orang-orang berdarah china juga salah satu factor penting, mengapa cerita sejarah ini dibiarkan teronggok di museum, atau dibiarkan tersimpan dinegeri orang, semua data-data penting berjumlah lebih dari 3 muatan penuh pedati lembu di usung dari San Poo Kong.. namun tak satu lembar pun di tuturkan kepada generasi muda era orde baru, ini benar-benar ironis, mengingat negeri ini mayoritas beragama islam, sedangkan fakta mengatakan hancurnya Negara adidaya pertama di nusantara dan di Pulau Jawa pada khususnya, yang notabene menjadi kebanggaan orang-orang jawa telah di kubur dan di hancur leburkan oleh kebudayaan islam yang fanatic dan jelas tidak ingin berdampingan dengan budaya lain……



Sekarang jaman sudah berganti, fakta-fakata sejarah semacam ini sedikit demi sedikit mulai terangkat ke permukaan, kisah-kisah seperti ini sungguh sangat disayangkan jikalau gilang dan pupus disuatu generasi dan generasi berikutnya tidak tahu sama sekali, semoga saja kita bisa melestarikan sejarah yang merupakan ruang waktu yang sangat berharga dan tidak mungkin akan terulang kembali…………… (Dede Loo 05/12/2011/Dari Berbagai Sumber)

Kamis, 13 Oktober 2011

Legenda Ular Putih

白蛇传
Siluman Ular Putih
Legenda Seberang Yang Mendarah Daging di Bumi Nusantara

By Dede Loo

Seekor ular putih yang terobsesi menjadi manusia, setelah bertapa selama 1000 tahun dan meminum pil ramuan dewa, akhirnya dia berubah menjadi seorang gadis cantik yang bernama Bai Zhu Zhuan atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Pai Shu Chen. Bai Zhu Zhuan membaur ke dunia manusia yang kemudian bertemu dengan rekan sejenisnya sesama siluman, dialah siluman ular hijau yang selalu menjelma menjadi gadis cantik pengawal Bai Zhu Zhuan yaitu Xiao Qing.

Bai Zhu Zhuan dan Xiao Qing bertemu dengan seorang lelaki muda nan pandai dalam pengobatan yang bernama Xu Xian atau Han Wen atau juga Han Bun. Mereka menikah dan hidup bahagia, namun Han Wen tidak mengetahui bahwa istrinya adalah seekor siluman ular putih. Suatu saat datanglah seorang pendeta berhati jahat yang suka membasmi siluman, dia adalah Fa Hai atau Hoat Hay. Pendeta Fa Hai mempengaruhi Han Wen dengan memberikan berbagai mantra pengusir siluman, namun suami Bai Zhu Zhuan ini tidak pernah tahu bahwa istrinya lah siluman yang di incar Fa Hai.  

                             
                             (Legenda Siluman Ular Putih Dalam Lukisan)

Suatu saat Fa Hai dan Bai Zhu Zhuan bertempur, karena sedang hamil siluman ular cantik ini pun lemah dan kalah, berdalih berdosa besar, Fa Hai menghukum Bai Zhu Zhuan di dalam pagoda kuil Qin Shan di tepi danau barat (Xi Hu). Setelah melahirkan putranya She Lin, Bai Zhu Zhuan yang masih terkurung dalam pagoda bertapa, suatu saat muncul Dewi Kwan Yin, kemudian semua terungkap, karena menurut Kwan In, Bai Zhu Zhuan dan Xiao Qing telah banyak membantu orang juga, maka hukuman atas kesalahan mereka pun di cabut, akhir cerita Bai Zhu Zhuan dan seluruh kelurganya di bawa ke langit untuk hidup di dunia dewa-dewi.

Itulah ringkasan cerita legenda dari negeri tirai bambu yang memiliki judul “Bai Niang Zhi” atau “Bai Zhu Zhuan”. Sebetulnya legenda yang sangat terkenal ini adalah sebuah karangan tulisan yang dibuat oleh seorang sastrawan pada zaman Dynasti Tang. Cerita ini teramat popular kala itu, sehingga ceritanya mengalir menjadi bermacam bentuk, cerita ini ada di lirik lagu, puisi, lukisan dan pentas opera.

Hari berganti hari, tahun berganti abad hingga ke masa modern sekarang ini, cerita legenda siluman ular putih ini masih sering terdengar bahkan selalu terdengar hingga saat ini. Kisahnya pun bisa kita nikmati dan cermati bukan hanya dari sekedar karya tulisan atau lukisan, melainkan sudah disajikan dalam bentuk yang lebih dramatis yaitu gambar bergerak dan bersuara, film. Sebetulnya saya sendiri kurang begitu mengerti, kapan pertama kali cerita legenda ini dibuat film. Namun dari beberapa sumber yang saya baca memang agak mengejutkan saya. Pada tahun 1934 seorang sineas Indonesia yang bernama The Teng Chun mengangkat cerita legenda Bai Zhu Zhuan ini ke layar perak, dengan judul “Ouw Peh Tjoa” selain judul itu film ini juga memiliki judul alias yaitu “Siloeman Oelar Poeti En Item”. Cerita Bai Zhu Zhuan ini di produksi oleh Java Industial Film pada 1934 dengan gambar hitam putih dan menggunakan bahasa Indonesia tentunya karena film ini adalah film Indonesia asli, walau cerita yang diangkat adalah legenda China daratan. Yang menarik dalam poster film “Ouw Peh Tjoa” ini terdapat tulisan “100% Bitjara Melajoe” yang mungkin memiliki maksud untuk menarik semua kalangan pergi ke bioskop kala itu untuk menonton film ini, karena film ini walau dimainkan oleh actor dan aktris bermata sipit, berkostum mandarin namun menggunakan bahasa nasional yaitu Indonesia. Film ini  bisa dibilang sukses kala itu karena beberapa tahun kemudian sekitar 1936 The Teng Chun dengan perusahaan pribadinya yaitu Java Industrial Film kembali mengangkat cerita siluman ular ini ke layar perak dengan membuat sequelnya yaitu film “Anaknja Siloeman Oelar Poeti”, tentu saja cerita ini menceritakan kisah Bai Zhu Zhuan yang sudah menikah dengan Xu Han Wen dan dikaruniai seoarang putera.

            
                                  (Inilah poster film “Ouw Peh Tjoa” tahun 1934)

Saya sangat yakin sekali di negeri asalnya China, cerita ini pasti juga sudah diangkat ke bioskop dari berpuluh tahun yang lalu, namun yang paling bikin demam di Nusantara ini adalah sebuah sinetron serial buatan Taiwan yang berjudul 新白娘子傳奇 (Xin Bai Niang Zhu Zhuan Qi / The New White Snake Legend). Serial ini dibuat oleh sebuah production house asal Taiwan pada tahun 1992, tentu saja sebelum-sebelumnya cerita ini sudah pernah dibuat, tetapi selalu mengalami improvement setiap kali masa berganti. Dalam cerita ini Bai Zhu Zhuan diperankan oleh wanita yang memang tidak belia lagi namu pas sekali yaitu Zao Ya Zhi atau Anggi Chiu, wanita mantan Miss Hongkong ini sangat cocok memerankan siluman ular yang berwujud wanita lembut nan cantik namun pandai bersilat, sementara itu suaminya Xu Han Wen tidak diperankan oleh serang lelaki, ahkan tetapi seorang aktris yang tidak kalah cantiknya yaitu Ye Thung atau Cecillia Yip. Pemilihan pemeran jatuh ke seorang aktris wanita mungkin bermaksud agar dapat lebih menghidupkan tokoh Han Wen yang terkenal lemah lembut, lugu dan penurut, karena dalam White Snake Legend ini suami Siluman Ular Putih digambarkan sangat lemah secara fisik bahkan tidak mengerti ilmu bela diri sama sekali.

Serial ini tayang di Indonesia pada tahun 1994, dengan dialog yang sangat khas dan di sukai ibu-ibu yaitu “suamiku… istriku..”. Ternyata ulah SCTV kala itu membuahkan sesuatu yang manis sekali, serial ini booming dan fenomenal dikala itu. Dialog khasnya tadi, lagu tema dari serial ini pun laris manis terjual dalam bentuk kaset yang kala itu di jual dengan harga Rp.7500, bahkan beberapa lagu Indonesia pun mengadaptasi dari lagu-lagu soundtract serial ini. Saking suksesnya baru beberapa waktu selesai penayangan, serial ini kembali ditayangkan oleh stasiun televisi yang sama yaitu SCTV. Pada awalnya White Snake Legend tayang seminggu sekali setiap hari selasa jam 19.30 Wib, kemudian setelah tamat ditayangkan kembali pada hari senin di waktu yang sama. Kemudian setelah berhasil menamatkan episode terakhirnya, siluman ini kembali muncul setiap sabtu pukul 14.30 Wib. Keberhasilan serial White Snake Legend ini bahkan sempat membuat SCTV ingin mempertemukan pengisi suara Bai Zhu Zhuan dalam versi dubbing indonesia yaitu Via dengan pemeran asli Anggi Chiu alias Zao Ya Zhi, namun rencana jumpa fans ini gagal entah kenapa.

           
                                     (White Snake Legend Tayang Di SCTV 1994)

Untuk selanjutnya cerita yang sama dalam kemasan yang lain pun bermunculan, antara lain versi Singapura atau bahkan versi hongkong yang hampir setiap tahun membuat ulang, bahkan baru-baru ini actor kawakan Jet Lee juga memerankan Fa Hai dalam film layar lebar yang mengangkat legenda ular putih ini.

Sebuah karya yang bagus memang akan terus abadi sampai kapanpun dan menjadi sebuah legenda atau bahan cerita ke anak cucu seperti kisah dua siluman ular ini. Keberadaan etnis Tiong Hoa yang menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia membuat kisah-kisah klasik dari negeri tirai bambu ini pun ikut menyeberangi lautan luas dan menggema menjadi buah bibir dan karya baru di negeri orang, tidak terkecuali dengan Si Ular Putih ini. Seperti sudah saya ulas di atas, di negeri ini saja cerita ini sudah terdengar dari zaman kerajaan dahulu kala. Semua cerita dari leluhur kita akan terus lestari apabila kita selaku generasi mudanya bisa menjaganya dan rajin untuk membuatnya terus hidup dengan cara apapun, sekarang legenda dari luar negeri ini bahkan sudah sangat mendarah daging di nusantara, mungkin bagi kita yang keturunan Tiong Hoa sudah mendengarnya dari kecil dulu, tentapi bagi masyarakat asli mungkin tau sejak ada tayangan serial white snake legend di SCTV tahun 1994 silam. Bahkan cerita ini sempat di buat versi kartun oleh anak-anak bangsa ini pada awal 2000an dan di paketkan dalam wadah yang berjudul legenda indonesia. Ini membuktikan kalau legenda ini pun diterima di negeri ini, teater koma sudah berkali-kali mengangkat cerita ini ke atas panggung teater, bahkan sinetron indonesia nya juga ada yaitu “Legenda Ular Putih” Produksi Sinemart tahun 2006 lalu.

Bagaimana dengan legenda asli negeri ini… Timun Mas…, Sangkuriang, Bawang-merah bawang putih… apakah akan terdengar hingga ke negeri manca, atau malah dinegeri sendiripun akan sirna terlindas oleh game online atau cerita legenda luar yang di kemas dalam paket film yang sarat akan effect CGI? Ini pertanyaan yang menjadi tanggung jawab kita semua. (Dede Loo 2011/10/13)

Selasa, 11 Oktober 2011

Romantika Bahasa Ngapak-Ngapak

Bahasa Banyumasan
Bagaimana Nasibmu 30 Tahun Mendatang?

By Dede Loo

“Limbeyane nyempal blarak.. Kartisem, goli mlaku pating kradak ora teyeng kalem… liwat ngarep koplak menyak kulit gedhang keplarak, kepaduk ngrungkebi becak….” (Lambaiannya seperti pelepah kelapa yang sudah patah, Kartisem kalau jalan berisik tidak bisa diam.. lewat depan komplek menginjak kulit pisang terpeleset dan jatuh tengkurep di becak…), itulah sepenggal lirik lagu “Nini Kartisem” yang dipopulerkan oleh Sopsan, sebuah group campur sari dari Banyumas. Untuk saya pribadi orang Cilacap yang sememangnya akrab dan menggunakan bahasa ini setiap hari saja sempat sangat geli dan tertawa mendengar lagu ini, apa lagi orang yang memang berasal dari daerah yang tidak menggunakan dialek Banyumas yang mendengarnya.

Bahasa Banyumasan ini atau dikenal dengan “bahasa ngapak-ngapak” digunakan oleh masyarakat jawa bagian barat, tapi bukan berarti orang jawa barat yang terbiasa berbahasa sunda lho. Dalam hal ini adalah beberapa bagian jawa tengah bagian barat yang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu selatan (Purwokerto, Banyumas, Cilacap, Kroya, Gombong kebumen dan sekitarnya), bagian barat (Cirebon, indramayu, sebagian Ciamis dan sekitarnya), serta bagian Utara (Brebes, Tegal, Pemalang dan sekitarnya). Bahkan ada yang aneh, yaitu masyarakat Banten utara yang memang memiliki kesamaan yang sangat dekat dalam berkomunikasi sehari-hari yaitu dengan menggunakan bahasa mereka yang mirip dengan bahasa Banyumasan juga. Ini sangat menarik sekali jikalau dikaitkan dengan sejarah, pada masa lalu banyak orang dari daerah banyumas dan sekitarnya yang di buang ke daerah banten, mereka beranak pinak dan menempati beberapa bagian banten masa itu sehingga sekarang, dengan demikian dibeberapa bagian propinsi yang dulu ikut Tangerang ini terdapat kampung-kampung yang menggunakan bahasa pangenyongan juga. Jikalau dilihat dari jarak yang lebih dari 300 Km itu memang sangat mengejutkan yaaaa……

Sebenernya ada apa, dan mengapa dialek Banyumasan ini selalu menjadi bahan tertawaan apabila terdengar? Sehingga para penggunanya selalu berusaha menutupinya dikala berada di kerumunan orang-orang yang berbahasa selain Banyumasan? Sungguh sangat ironi dan menghawatirkan, padahal sebuah dialek adalah identitas suatu etnik, karena dialek itu adalah asset kekayaan suatu etnik, orang lain akan mengenal kita dari etnik mana bukan karena kulit atau penampilan (kecuali etnik tertentu yang memang memiliki penampilan khas, seperti Tiong Hoa yang putih dan mata sipit, atau etnik papua yang Hitam dan bermuka negrito) melainkan bahasa atau dialek yang kita ucapkan, orang yang berbicara dengan logat sunda tentu sangat jelas dia berasal dari jawa barat dan sekitarnya, dan apabila menggunakan bahasa jawa baku itu sudah pasti berasal dari daerah Yogyakarta ke timur, dan tentu saja yang berbicara Ngapak-ngapak itu sudah pasti dari Banyumas, Cilacap dan sekitarnya.

Bahasa Banyumasan ini kalau ditelaah lebih dalam mungkin adalah bahasa yang paling memiliki hubungan langsung dengan bahasa jawa kuno/bahasa kawi. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa kosa kata yang ada di dalamnya, seperti penggunaan kata “inyong” untuk sebutan “saya” dalam bahasa Banyumas, ini tidak jauh berbeda dengan bahawa jawa kuno yang menyebut “Ingwang” pada sekitar tahun 900 M sampai 1300 M, atau kata “Ingong”  pada tahun 1300 M sampai 1600 M yang memiliki arti sama yaitu “saya”. Selain itu juga ada kata “Gandul” yang memiliki arti papaya atau “Rika” yang memiliki arti “kamu” yang juga biasa digunakan pada zaman Jawa kuno dulu.

Lalu mengapa bahasa Banyumasan itu dianggap sebagai bahasa orang kelas bawah bila dibandingkan dengan bahasa Jawa lainya, apa karena pengucapannya yang khas? Ternyata bukan. Dahulu pada masa kerajaan, pusat pemerintahan terletak di Yogyakarta dan sekitarnya, jadi di daerah jawa tengah bagian barat tidak ada kerajaan, termasuk dareah Banyumas dan sekitarnya, sehingga daerah ini menjadi bagian dari kerajaan yang berada di Yogyakarta tersebut. Pada masa itu tentu saja sering ada utusan atau pesuruh yang datang dari pusat kota untuk sekedar meninjau atau menyampaikan amanat penting ke kepala-kepala pemerintahan di daerah Banyumas. Pesuruh/utusan kerajaan itu biasa disebut “Gandhek” oleh orang-orang setempat, karena pesuruh atau “gandhek” tersebut berasal dari jawa ketimuran maka bahasa jawa yang dipakai adala bahasa jawa yang baku, yang biasa disebut jawa wetanan, atau yang kini digunakan oleh masyarakat Yogyakarta, solo dan sekitarnya. Oleh sebab itu penduduk jawa Banyumas selalu menyebut kata “bandhek” untuk bahasa jawa wetanan tadi, karena berasal dari kata “Gandhek” tersebut. Pada masa-masa itu karena kebanyakan pejabat tinggi menggunakan bahasa jawa baku/wetanan maka orang banyumasan merasa selalu mengalah, dikarenakan menganggap diri mereka adalah kaum yang bertengger dibawahnya.

Pada masa sekarang ini pun seringkali terbawa oleh kebiasaan masa lalu itu, dimana orang Banyumas atau disebut sebagai orang panginyongan seringkali merasa malu atau merasa terpencilkan bila menggunakan dialek ini di muka masyarakat umum, terutama apabila berada di daerah yang tidak menggunakan bahasa Banyumasan, seperti di Jakarta atau tempat lain. Bahkan seringkali orang-orang yang berbahasa banyumasan pada masa ini pun masih diperlakukan seperti masa-masa ratusan tahun yang lalu, orang-orang yang tidak menggunakan bahasa ini terkadang mengkait-kaitkan  dengan warteg (warung tegal) atau dengan para pembantu rumah tangga. Ini terlihat sekali dengan tayangan-tayangan televisi yang memang mau tidak mau akan menjadi perhatian public, dan munkin menjadi sebuah keharusan yang tidak dapat dirubah, kalau pemilik warteg ya pasti orang-orang jawa tengah bagian barat, atau pembantu rumah tangga ya pasti ngomongnya pake bahasa ngapak-ngapak, saya belum pernah lihat di sinetron atau filem ada peran pembantu rumah tangga orang Batak atau orang dari suku lain, ada sih…… tapi tidak sebanyak orang-orang Jawa yang dipajang sebagai pembantu atau babu, terutama jawa panginyongan tadi.

Bahkan saya pernah berdialog dengan orang yang berasal dari dareah Sumatra utara, dia sendiri keturunan Jawa, namun dia berkata di mata masyarakat luas di sana orang-orang jawa dari jaman dahulu tidak mementingkan pendidikan untuk anak-anaknya, selalu memiliki banyak anak dan anak-anak memiliki pekerjaan yang tidak jauh berbeda dengan orang tuanya, apa bila orang tua petani maka orang tua itu akan berpikir anaknya akan jadi petani seperti dirinya, jadi seperti hidup yang akan terus berulang tanpa perubahan yang berarti. Jarang sekali orang jawa yang menginginkan perubahan terhadap keturunannya kala itu. Apalagi orang jawa memiliki semboyan “banyak anak banyak rejeki” atau “makan gak makan asal kumpul” atau “alon-alon asal kelakon” (pelan-pelan yang penting terlaksana), memang kalau ditelaah lebih dalam semboyan itu mencermikan sikap pasrah yang cenderung pasif, dimana ini terlihat seperti apapun yang terjadi ya terjadi saja, mereka tidak akan menentang atau berusaha bangkit. Parahnya yang memiliki sifat seperti itu, atau masyarakat jawa yang menganut prinsip itu adalah orang jawa pangeyongan di kebanyakannya, ini juga terbukti dimana bila di lihat dari latar belakang pendidikan dan peraih gelar sarjana kebanyakan orang-orang jawa wetanan,  tidak demikian dengan daerah Cilacap, banyumas dan sekitarnya, namun keadaan sudah sedikit berubah akhir-akhir ini. Tetapi tidak menutup kemungkinan masih banyak sekali masyarakat yang menganut prinsip tersebut, apalagi masyarakat yang tinggal jauh diperkampungan atau pesisir.

Ini sangat kontras sekali dengan orang-orang dari suku lain seperti Batak atau Padang apa lagi dengan bangsa keturunan. Saya mohon maaf bukan mau membanding-bandingkan suku, namun hanya sebagai pandangan saja, suku batak memiliki watak keras dan ambisius, mereka juga sangat mementingkan pendidikan, cita-cita yang sangat popular tentu saja pengacara, dan menjadi pengacara mana bisa hanya tamat SD, karakter orang-orang batak juga tegas, mereka tidak akan tinggal diam apabila mendapat perlakuan buruk, ini sangat berbeda dengan masyarakat jawa. Oh ya seperti saya ungkap diatas dalam tayangan televisi peran pengacara biasa diperankan oleh orang batak dan peran pembantu diperankan oleh orang jawa, terutama jawa panginyongan.

Itu semua adalah fakta yang ada, dimana masyarakat Banyumas masih merasa dirinya itu lebih rendah dari masyarakat jawa bagian lain atau bahkan dari suku lain, walau jaman sudah berganti namun adat tersebut atau karakter yang merasa dirinya itu hanya sekedar hamba seperti phobia dan trauma hingga ke anak cucu.

Dalam pergaulan modern seperti ini, seperti saya sendiri yang memang dilahirkan dan di besarkan di Kroya Cilacap, tentu saja sangat mengerti dan fasih dalam mendengar dan mengucapkan kata-kata dalam dialek banyumasan ini, namun memang saya sendiri pun merasa sungkan sekali untuk mengucapkan jikalau dengan teman atau orang yang bukan berasal dari daerah saya, kekawatiran akan di tertawakan atau direndahkan selalu muncul dalam benak saya. Yang lebih parah lagi bertahun-tahun saya tinggal di luar kampung halaman saya, apa bila saya pulang saya dapati hanya orang-orang tua saja yang berbicara menggunakan dialek banyumasan asli, namun untuk anak-anak belasan hingga 25 tahunan mereka menggunakan bahasa indonesia yang beraroma banyumasan. Seperti di toko atau dipasar, pelayan atau penjual dagangan itu menggunakan bahasa indonesia.

Ini salah siapa? Jikalau kita lihat ke masa lalu, apa kita harus menyalahkan nenek moyang kita dulu?, atau kita sendiri yang memang tidak pandai merubah nasib. Dalam dunia pendidikan juga turut berperan, kita ingat saja jaman SD dan SMP dulu, muatan local yaitu pelajaran Bahasa Dareah yang kita pelajari adalah bahasa Jawa baku yang biasa dipakai di Yogyakarta, solo dan sekitarnya, namun bahasa asli Banyumasan atau bahasa pangenyongan atau bahasa ngapak-ngapak tidak ada mata pelajarannya, semua lagu daerah jawa yang di ajarkan juga tidak satupun menggunakan bahasa dareah Banyumasan. Bahkan saya pribadi mendengar ada lagu berbahasa banyumas ya lagu “Nini Kartisem” itu tadi, sebelumnya munkin lagu-lagu seperti “kembang kilaras” atau “waru doyong” yang sudah keburu di cap sebagai lagu cirebonan.

Ini sungguh sangat menghawatirkan, padahal lidah dari orang-orang jawa banyumasan ini adalah yang paling flexible dibandingkan dengan lidah dari jawa bagian lain, saya sendiri tidak pernah ada yang menyangaka kalau bahasa asal saya adalah bahasa ngapak-ngapak, dibandingkan dengan siapa saja yang berasal dari dareah jawa wetanan hingga Surabaya dan sekitarnya dimanapun dia tinggal, selama apapun pasti dialek asal masih terdengar dengan jelas. Namun tidak untuk orang-orang dari jawa banyumas, lidah kita akan fasih sefasih orang asli bahasa tersebut, kita bisa bicara menggunakan bahasa Inggris tanpa “mendhok” jawa, atau bahasa Mandarin dengan bagus seperti orang Taiwan. Lihat para TKW yang pulang dari Taiwan atau Hongkong, mereka sangat fasih dan tidak kelihatan sekali bahasa ngapaknya jika sedang bertutur dalam bahasa china. Ini merupakan suatu bukti bahwa masyarakat banyumasan bisa untuk berbaur dengan bangsa lain tanpa harus merendahkan diri, tapi bisa di sejajarkan. Keadaan ini seperti dilemma, di satu sisi ini adalah hal yang bagus dan positif karena lidah masyarkat banyumasan ini bisa beradaptasi dengan bahasa manapun, namu di sisisi lain timbul kekhawatiran jikalau nanti semua masyarakat banyumasan meninggalkan bahasanya maka bisa-bisa beberapa puluh tahun kedepan sudah tidak ada lagi dialek yang dianggap sebagai keturunan terdekat dari bahasa jawa kuno ini.

Harapan kita semua, apa yang sudah kita miliki seharusnya tidak hilang, terjual atau tergadaikan, begitu pula dengan dialek kedaerahan yang ada di Nusantara ini, teramat banyak, dan itu adalah kekayaan yang tidak ternilai. Peran serta semua pihak memang sangat diperlukan, terutama pemerintah dalam hal ini depertmen pendidikan dan juga kebudayaan. Masyarakat banyumasan sendiri juga kini sudah tiba saatnya untuk bangun dan sadar bahwa tidak ada lagi ancaman dari manapun, hilangkan semua trauma dan phobia, kita adalah sama dan sejajar dengan etnik lain dibawah paying Nusantara ini.

Mas karo mbok ayune kabeh, aja pada rikuh-rikuh lah angger arep pada ngomong karo basa banyumasan, wong pada ngguyu ya ben jorna bae malah tambah rame mbokkk…. Ya.. uwis dingin ya.. kapan-kapan mengko inyong tek nulis maning sing akeh…. Salam wong pangenyongan. (Dede Loo 10/12/2011)

Rabu, 05 Oktober 2011

Kisahku Dan Mahapatih Gajah Mada

Mahapatih Gajah Mada
Kisahku .. & Kerumitan Sebuah Legenda Yang Tak Kunjung Tersampaikan  Ke Layar Kaca

By Dede Loo
             Siapa tidak tahu dengan tokoh legenda yang teramat sangat akrab dari semasa kita duduk di bangku sekolah dasar dulu. Wajahnya selalu menghiasi banyak dari beberapa versi buku cetak sejarah perjuangan bangsa. Adalah Gajah Mada, seorang pejuang yang dikenal sebagai Bapak pemersatu bangsa di Nusantara ini. Dia hidup pada era keemasan Kerajaan Termashur Majapahit. Menurut beberapa sumber dia adalah rakyat jelata yang tidak punya darah ningrat sama sekali, yang kemudian menjadi bekel, sebuah jabatan kecil di istana yang setingkat prajurit. Karena dia ulet, pintar dan tentu saja berbakat, akhirnya murid dari Naga Baruna ini berhasil menjadi seorang Mahapatih yang memimpin expedisi hingga ke manca Negara dengan membawa ratusan ribu tentara melintasi lautan luas, demi menaklukan negeri-negeri berhampiran untuk mempersatukannya di bawah panji gula kelapa (dalam hal ini melambangkan merah dan putih) di bumi Nusantara.
Sumpah palapanya sangat terkenal sekali, demi merealisasikan ambisinya untuk mempersatukan Nusantara, dia rela untuk meninggalkan kebahagiaan duniawi. Beliau mengabdi untuk Majapahit hingga usia tuanya, untuk kemudian Beliau meninggalkan keduniawian untuk bertapa di sebuah air terjun di wilayah Probolinggo, Madakari Pura di kaki Gunung Bromo. Sampai dengan detik ini tidak ada sumber yang memastikan keberadaan makam orang terkenal ini. Beberapa sumber menyatakan bahwa Gajah Mada moksa, beliau meninggalkan dunia tanpa kematian, atau hilang raga namun semangat dan jiwanya masih ada hingga saat ini.
Sebuah perkumpulan yang menyebut diri mereka rumah Produksi mencoba untuk mengangkat legenda ini kesebuah karya film dan sinetron kolosal. Mereka memulai kegiatan untuk membedah dan mengangkat Gajah Mada sejak tahun 1996, dimulai dari tempat asal gajah mada yaitu daerah jawa timur kemudian berpindah, berpindah dan berpindah. Tahun demi tahun berganti hingga pada tahun 2006 tepatnya bulan Febuari, saya bergabung ke dalam komunitas ini.
Sedikit mengungkit kisah hidup saya, sedari kecil saya sangat menyukai cerita silat, termasuk nonton film-film yang beradegan laga apa lagi jikalau menggunakan kostum tradisional dan terbang kesana-kemari… itu sangat menarik bagiku. Biasanya itu adalah sebuah khayalan anak-anak yang kemudian akan sirna dan berganti dengan hobby lain yang lebih masuk akal ketika dewasa nanti. Namun tidak dengan diri saya…, semakin beranjak umur maka semakin penasaran akan hal-hal tersebut, terinspirasi film silat dari indonesia dan hongkong saya pun tidak henti mencari informasi melalui buku maupun media lain mengenai hal-hal apa saja yang ada di dalam cerita tersebut termasuk sejarah yang terkandung di dalamnya. Saya mempelajari beladiri dan sangat suka membaca buku sejarah.
Saya meneruskan pendidikan ke negeri jiran setelah tamat SMK, mungkin terinspirasi hal diatas juga maka bakat seni saya juga hidup, berawal suka menyanyi akhirnya di negeri tetangga ini saya selalu ikut lomba nyanyi di Mall-mall. Hingga pada suatu ketika saya di hampiri oleh 2 orang pria yang mengaku dari sebuah agency modeling. Dia meminta saya untuk datang ke kantornya keesokan harinya. Setelah saya sampai mereka menawari saya untuk mengikuti Mr/Ms Valentine 2004. Saya sempet menolak karena saya tau itu dari pamphlet yang ada di hampir semua sudut kota penang, kalau pemilihan itu melalui audisi dan menurut cerita orang sudah hampir 2500 orang mendaftarkan diri. Namun mereka maksa saya untuk ikut tanpa jalan audisi dan langsung menjadi salah satu dari 12 orang Grand Finallis pria, dengan alasan wajahku memiliki kelainan dibandingakan wajah cowok melayu local. Aku menyetujuinya.
Akhirnya acara di gelar pada 14 Febuari 2004 setelah seminggu saya digodok untuk berjalan di cat walk dan berpose untuk pemotretan. Sebelumnya kira-kira sebulan sebelum hari H, saya sempet di bawa kesana dan kemari bersama ke-23 finalis lain (kita berpasangan) untuk sesi pemotretan yang dilakukan di beberapa tempat berbeda dari indoor dan outdoor sampai ke hutan-hutan.
Setelah acara selesai saya dilanjutkan kontrak dengan sebuah perusahaan perawatan kecantikan terkemuka di sana, aku di kontrak mulai 28 feb 2004 hingga 28 feb 2005. Sepanjang keterikatan saya tersebut saya sangat sibuk untuk kegiatan modeling di catwalk maupun menyanyi. Hingga suatu saat saya harus kembali ke tanah air pertengahan 2005. Karena ternyata saya enjoy melakukan kegiatan diatas akhirnya aku ingin mengulangi nya di negeri sendiri. Saya tidak tahu betapa ini sangat berbeda dari semua hal yang aku alami di negeri jiran itu. Saya berkali-kali di tipu oleh agency modeling di Indonesia dan juga production house. Hingga pada bulan Febuari 2006 saya dipertemukan dengan sebuah tempat yaitu kawasan hutan buatan CIFOR (Center International Forest Research) yang berada di desa Sindang Barang Jero, Dramaga Bogor.
Ketika itu saya datang sekitar jam 10 pagi, udara disana lumayan segar karena di tengah hutan, saat mobil berhenti dan saya keluar, saya sempat terpegun karena ada sebuah bangunan Istana kerajaan jawa di depanku, saat itu istana itu masih sebuah balai besar beratap joglo dengan sedikit ornament jawa trandisional khas sinetron silat. Di depan set istana itu saya lihat ada beberapa orang pemuda tanggung yang sedang berlatih bela diri. Mereka Nampak kucel dan kotor mungkin karena setiap hari harus berlatih di lapangan dengan fasilitas yang seadanya.
Saya diperkenalkan kepada seorang yang sangat karismatik dimata saya, dia adalah Renny Mursantio Masmada. Kita biasa memanggilnya Om Renny atau Renny Masmada, orangnya berpembawaan kalem, kebapakan  berwibawa dan murah senyum. Beliau adalah penggagas dari semua ini, semua cerita Gajah Mada ini, dia juga adalah orang yang paling mengerti tentang pahlawan besar ini, sudah puluhan tahun beliau melakukan reset untuk ini. Saat itu tampangku yang masih lumayan fresh, baru pulang dari negeri orang yang memiliki fasilitas bagus didalamnya serta perawatan diri yang rutin, aku mendapatkan sebuah peran setelah saya melalui casting. Saat itu saya mendapatkan peran sebagai Toa Lun, seorang pendekar kitai nagari (China) yang datang bersama ke 5 rekannya untuk membunuh Tribuana Tungga Dewi atas dasar penganiayaan yang dilakukan Kertanegara terhadap paman seperguruan mereka dimasa singosari yaitu Meng-Chi yang di potong kupingnya. Ya.. kita di casting untuk kesatria yang ternyata salah menagih hutang istilahnya. Saya gembira sekali karena saya membawa pulang sekenario yang juga ditulis oleh S.Tijab yang berisi ratusan halaman, saya juga gembira karena saya sudah tanda tangan kontrak untuk beberapa episode awal, dan untuk episode yang rencana totalnya 356 episode itu akan menyusul kemudian.
Saat itu saya tinggal di Cibubur, karena setiap hari harus datang untuk berlatih kung-fu dan reading sekenario maka aku memutuskan untuk pindah ke Bogor, saya tinggal berhampiran dengan lokasi istana Majapahit dan komplek lokasi shooting sinetron kolosal ini. Hari demi hari aku lalui seperti anak sekolah, pagi jam 07:00 aku datang ke ballaiurang (begitu kita meyebut bangunan utama set Istana Majapahit yang menyerupai pendopo raksasa ini) untuk belajar demi mendapatkan hasil yang baik saat take shoot nanti.
Dari Cuma belasan orang yang tergabung di sini hingga ratusan orang, karena penduduk sekitar juga ikut dilibatkan dalam Produksi mega kolosal ini. Suasana saat itu memang sangat menyenangkan, dekat dengan masyarakat yang hangat, semaua terasa seperti keluarga. Semua ada disini, ada gembira, ada tertawa ada juga kesedihan campur aduk jadi satu. Terkadang ada juga artis yang sudah punya nama datang ke lokasi dan juga ke kantor kami yang saat itu bernama PT. HMP Numismatic Indonesia Film Production.
Hari berganti hari, para pemain yang foto dan nama peran sudah terpampang di dinding kantor PH ini sudah terkumpul semua dilokasi mengikut schedule, akhirnya soft launching digelar di IPB bogor. Kemudian lagu tema yang dibuat sangat bersemangat dan indah menggelegar gagah oleh musisi kenamaan Indonesia Areng Widodo pun ikut diperdengarkan berkali-kali di lokasi. Suasana riuhnya shooting sudah sangat dekat, aku tidak sabar untuk menggunakan kostum seorang kesatria China dan membawa sebilah pedang. Aku terbayang untuk melakukan adegan di salah satu scene yaitu saat saya bertempur dengan Ra Kembar (diperankan oleh Torro Margens) di depan Istana Majapahit.
Hari dimana take pertama dimulai, saat itu pengambilan gambar secara random, tidak berurutan karena untuk membuat sebuah trailer terlebih dahulu. Ternyata shooting itu menyenangkan tapi juga capek bukan kepalang, dari subuh ketemu subuh.., makan nasi kotak yang kadang sudah membeku, mata mengantuk tapi masih memakai make up tebal di malam hari dengan wig yang membuat kepala gatal. Saat shoot siang hari ketika lapar atau haus dan ingin jajan di tepi jalan maka saya harus berjalan dengan pakaian ala peran saya ke jalan depan untuk membeli es cendol, maklum kan gak punya asisten.
Sampai pada suatu ketika shooting tiba-tiba berhenti, saya tidak tahu apa penyebabnya, namun beredar kabar yang kurang enak di dengar, tapi saya tidak peduli dalam hati hal semacam ini hanya membuat semangat saya turun saja. Di saat senggang tidak ada shooting saya dan yang lain sering bertandang ke lokasi dan bertemu dengan Om Renny untuk mendengarkan cerita-cerita dari beliau, terkadang kita menyanyi bersama dengan mendendangkan lagu yang beliau ciptakan. Perlu diketahui Renny Masmada adalah seorang multi talent dari sendi peran, teknik perfilman, teater, penulis, penyanyi dan pencipta lagu…
Setelah beberapa lama vacuum, akhirnya shooting dimulai lagi, peralatan shooting pun kembali datang ke lokasi, lampu-lampu besar, kamera, serta kuda-kuda sudah mulai dilatih kembali. Anak-anak, ibu-ibu, Bapak-bapak bahkan ternak dari masyarakat sekitar juga dilibatkan shooting kali ini. Ramai sekali, menyenangkan dan hangat. Tidak terasa tahun sudah berganti, aku terbuai, banyak temen, saudara baru dan pengalaman yang aku dapat. Namun saya lupa tujuan awalnya. Ya tujuan awal adalah pembuatan sebuah mega sinetron kolosal dengan judul “Mahapatih Gajah Mada” dengan dana yang tidak sedikit. Sudah sekian lama sinetron ini juga belum bisa ditayangkan karena berbagai masalah yang harus direvisi. Terkadang apa yang menurut kita bagus dan keren, menurut penonton dirumah itu tidak enak dilihat. Sinetron ini memang lebih mengedepankan intrik politik dan sejarah yang ada di kisah Gajah Mada, namun tidak sedikit pula menyuguhkan adegan laga yang fantastis, namun produser bersabda bahwa sinetron ini tidak akan menampilkan adegan terbang yang berlebihan dan juga tidak menampilkan adegan laga yang menggunakan banyak effect visual, jadi agak menantang arus memang.
Namun tidak lama kemudian shooting kembali berhenti, orang-orang satu persatu meninggalkan lokasi, desa Sindang Barang Jero yang biasanya ramai sekali di datangi orang, baik itu yang ingin ikut shooting walau hanya sebagai figuran yang harus berlarian di kejar bandit di pasar dengan honor hanya 35ribu maupun yang hanya ingin melihat seperti apa sih shooting sinetron itu, atau ah… kaya apa sih rupa artis ini jika di lokasi. Secara tidak langsung tempat ini sudah seperti Hollywood-nya kota Bogor, karena banyak sekali film dan sinetron yang mengambil lokasi ini sebagai set. Penduduk sekitar juga di untungkan karena kontrakan mereka penuh, yang tadinya tidak buka warung jadi punya warung.
Tempat ini terus naik dan turun, terkadang shooting nanti break lagi lama, begitu seterusnya hingga suatu saat shooting ini benar-benar berhenti, sungguh malang nasib pemain-pemain muda dari daerah yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka rela pindah sekolah demi terlibat Produksi ini, namun Produksi harus berhenti ditengah jalan. Tentu saja ini meninggalkan beban mental bagi mereka, pasti di ejekin temen di sekolah dan ini … dan itu…, kini penduduk Majapahit di lokasi ini semakin berkurang, sudah tidak ada lagi anak-anak berlatih silat depan istana buatan ini, tidak ada lagi ocehan-ocehan lucu dari salah satu penata make up yang biasanya bikin suasana heboh. Satu persatu pergi, dan tinggal segelintir saja, production house ini dengan pemilik tanah yang di sewakan untuk shooting pun kabarnya ada konflik mengenai pembayaran, demikian juga para pemain yang punya banyak hutang di warung-warung sekitar membuat warung-warung ini tutup. Ini bener-bener mengenaskan, kondisi semakin parah ketika listrik di lokasi di cabut PLN, rasa percaya yang aku tanam di sana pun mau tidak mau harus meleleh dan mengalir ke danau situ gede, sebuah danau di lokasi shooting yang menyimpan banyak kenangan indah di sana buat saya.
Dalam hati kecil saya sangat sedih, bukan masalah karena gagal tayang atau gagal jadi artis laga, namun semua orang sudah tidak ada di sini, aku bukan orang asli kampong ini, aku mulai berpikir untuk melompat namun tidak tau harus kemana. Tampang ku yang awalnya lumayan bersih dan cling dengan isi dompet tidak pernah nihil, handphone yang keren kala itu, kini tidak punya apa-apa lagi, boro-boro hape, baju yang mahal pun kini keliatan seperti gembel karena air yang jelek untuk mencuci, tidak ada biaya perawatan lagi, rambut aku tidak terawat, semua terbalik…. Bahkan barang-barang aku sempet ada yang hilang entah kemana…, berat badan aku turn belasan kilo.
Saya berpikir lagi, kenapa aku begitu jauh terperosok, namun pengalaman yang aku dapat teramat tidak ternilai harganya, karena tidak semua bisa merasakan pengalaman seperti ini, saya yakin penggagas program ini pun tidak bermaksud menterlantarkan kita semua. Semoga saja.
Saya pindah ke tangerang saya mulai bekrja di sebuah perusahaan televisi berbayar, kemudian setahun berikutnya saya pindah kerja di perusahaan Taiwan, ini sebuah pabrik sepatu, dengan kemampuan bahasa mandarin ku aku di terima sebagai salah satu staff department di sana.
Dalam benak saya, semua hal yang aku ceritakan diatas sudah seperti mimpi panjang yang bisa aku share ke orang-orang yang aku kenal setelahnya. Beberapa kali juga saya mendengar dan mendapat panggilan dari temen-temen yang masih ada di Produksi itu bahwa mereka akan memulai Produksi lagi, kali ini di tempat lain, di pulau Bali, saya tidak memperdulikannya karena saya sibuk bekerja yang jelas-jelas memberi saya penghasilan. Kabar bubar dari Bali pun sampai di telingaku, dan datang kabar mulai Produksi lagi kali ini dari pandeglang dengan orang-orang yang sama namun banyak orang-orang baru, namun hal ini juga tidak lama dan kemudian menghilang lagi entah kemana.
Jikalau di urut dari jaman pertama kali di gagas, pembuatan sinetron kolosal ini pertama mau dibuat dan diusahakan pembuatannya tahun 1996, bayangkan saat itu aku masih kelas 3 SMP, dan aku bergabung 11 tahun kemudian, 2 tahun kemudian aku tinggalkan kegiatan itu hingga saat ini sudah 2011 akhir, jadi sudah hampir 5 tahun saya meninggalkan Gajah Mada dan mereka sudah berpindah, memulai shooting baru kemudian bubar lagi, dan pindah lagi dan bubar lagi begitu seterusnya bahkan munkin hingga hari ini. Karena saya masih membaca berita baru mengenai Produksi hal yang sama entah itu dari orang lama atau orang baru. Bayangkan sebuah sinetron dibuat dari 1996 hingga 2011 totalnya sudah 15 tahun belum selesai, dan belum tayang juga.. pemain berganti ratusan kali dan sebagainya… dan sebagainya.
Sekarang keadaanku jauh lebih baik dari saat itu dulu, aku hidup sebagaimana masyarakat pada umumnya, pagi ke kantor dan sore pulang, awal bulan terima gaji dan begitu seterusnya, ini membuat saya lebih berarti dari pada harus mengejar mimpi yang tidak pasti. Kalau harus dituruti mau sampai kapan? Sampai detik ini saya juga tidak tahu mengapa kisah Gajah Mada sangat sulit untuk dikemas dalam bentuk film, pertunjukan dan sejenisnya, mungkin untuk buku sudah banyak diterbitkan,,akan tetapi karya dalam bentuk film, sinetron dan sejenisnya selalu gagal di tengah jalan. Munkin ada misteri tersembunyi dibalik itu semua, atau mungkin pahlawan ini tidak nyata atau bahkan beliau Gajah Mada yang moksa ini melihat kita? Beliau merasa tidak pantas? Sehingga semua di gagalkan? Atau memang karena tidak ada keseriusan dari para sineas kita untuk membuatnya menjadi sebuah maha karya… , karena mungkin mereka beranggapan dana yang dibutuhkan akan sangat mahal, makanya lebih baik membuat sinetron abal-abal saja yang penting TV ada gambarnya, atau bikin film hantu saja yang penting bioskop ada film Indonesianya.
Terus kalau begitu kapan kita punya film seperti Chrouching Tiger Hidden dragon? Atau Hero atau sinetron semacam Dong Yi..? semuanya kembali ke diri kita masing-masing. Semoga cerita ini menjadi pembelajaran bagi para pembaca yang bercita-cita menjadi penghibur, tidak halus jalannya dan tidak semua orang bisa ketemu jalan itu, dan juga para insan film semoga terinspirasi agar punya niat tulus untuk mengangkat Beliau sang pemersatu bangsa ini menjadi sebuah maha karya agar dapat bercerita dengan jelas, indah dan menarik kepada anak cucu, dan seluruh khalayak di dunia ini kalau Indonesia memiliki seorang pahlawan besar kala itu, dan memiliki kerajaan super berpengaruh kala itu. (Dede Loo, 2011/10/05) 

Jumat, 30 September 2011

REVIEW TUTUR TINULAR VERSI 2011

Dulu sekitar tahun 1995 pertelevisian Indonesia digempur secara bertubi-tubi oleh tayangan serial maupun film silat import dari hongkong. Saya masih ingat betul kala itu, dimana setiap hari pada jam-jam prime time diduduki oleh serial kungfu mandarin, hampir semua setasiun televisi (kecuali TVRI tentunya yang masih ngeributin iuran) menayangkannya, lihat saja seperti TPI yang sekarang berubah nama menjadi MNC TV kala itu memiliki program “Jagat Kungfu” setiap hari pukul 19:30, serial-serial seperti Pedang dan Kitab Suci, Pendekar Hina Kelana, Judge Bao adalah sebagian kecil dari program Jagat Kungfu yang popular kala itu. Di setasiun lain juga tidak mau kalah, SCTV punya program seri silat legenda negeri tirai bambu yang sangat terkenal yaitu Bai Shi Zhuan atau White Snake Legend dengan tokoh utama Pai Shu Chen, atau Indosiar yang dengan sangat berani menampilkan trilogy Chin Yung, Pendekar Pemanah Rajawali (Shen Tiaw Eng Hiong), Kembalinya Pendekar Rajawali/Return Of The Condor Heroes (Shen Tiaw Hiap Lu/Shen Tiaw Shia Li) dan Pedang Pembunuh Naga (To Liong To). Walau trilogy itu sudah uzur ya…. secara versi yang ditayangkan di TV kala itu adalah versi yang lama saat Andy Lau masih muda belia tahun 80-an. Setelah serial itu booming mendadak saat usia serial sudah belasan tahun tentu saja mungkin pemainnya kaget ya heeeee…
Akibat serbuan serial kung-fu dari dataran china yang teramat banyak itulah, maka para pekerja seni atau lebih spesifik lagi orang-orang film local berpikir untuk membuat serial silat local, maka munculah Genta Buana Pitaloka yang kala itu lama tidak membuat serial silat meluncurkan Singgahsana Brama Kumbara, bagaimana reaksi masyarakat…? Wooowww berhasil, Eh.. tapi sebelum singgahsana Brama Kumbara, pada sekitar akhir 80-an hingga awal 90-an rumah Produksi pak Budi Sutrisno ini juga pernah membuat “Mahkota Mayangkara” yang tayang setiap hari sabtu siang pukul 11:00 di TPI, itu lho sequelnya Tutur Tinular, tapi malah digarap jauh-jauh tahun sebelum Tutur Tinular Serial di buat.
Saking suksesnya membuat sinetron silat, dan rasanya pertelevisian indonesia sudah demam serial silat ya, maka rumah Produksi lainpun tidak mau ketinggalan, semua seolah berlomba menggarap sinetron silat dengan berbagai jenis. Sebut saja Hari Topan Entercine menggarap Wiro Sableng, Diwangkara dengan Jaka Tarub, Jaka Tingkir, Garuda Film menggarap Prahara Prabu Siliwangi, tidak hanya production house yang identik saja menggarap serial laga, Perusahaan pembuat sinetron semacam Multivison dan Starvision yang kebanyakan membuat drama serial kala itu juga ikut latah, starvision membuat Jacky, dipasang kan Ari Wibowo dan Ayuni Sukarman menjadi jagoan-jagoan muda ibukota, dengan seting jaman sekarang tentu saja memberi warna lain, Multivison meluncurkan “Perjalanan” kembali Ari Wibowo berlaga sebagai jagoan kali ini digandengkan dengan ratu sinetron kala itu Tamara Blezinsky yang wajib untuk beradu tendangan juga. Judul-judul lain kemudian menyusul, hampir semua cerita rakyat di negeri ini sudah terangkat dengan indah dilayar televisi, hingga suatu saat titik jenuh itu muncul juga. Dalam pandangan saya, kejenuhan muncul bukan dari para pemirsa TV…, melainkan para produsen itu sendiri, yang sudah tidak bersemangat lagi menggarap nya. Para pemain mungkin dikurangi adegan laganya biar honor bisa di pangkas, sehingga digantikan oleh gambar animasi kelas bangkai tikus…. Ya Tuhan Jeleeeeeeknya minta ampun, gimana penonton gak muntah-muntah lihat orang mau berantem sudah pasang kuda-kuda tiba tiba jadi kala jengking lah, jadi kodok, monster ini , monster itu walaaaaaahhhhhh pokoknya semua binatang dimuka bumi ini dari semut sampai biawak pernah menjadi stunt in para tokoh sinetron silat dalam adegan laga…. Ihhhh muntah kaleeeeeng.
Dan begitulah hingga kemudian sampai pada masa transisi,…. Masa ini adalah masa dimana saya merasa seperti menderita stroke yang cukup lama, gimana tidak…, ada sinetron atau FTV judulnya Jaka Tarub dan 7 Bidadari eeeeeeeeeehhhhhhh jaka tarub pakai celana jeans, bawa mobil, trus berantem ala serial silat, nama tokoh macam orang jaman dahulu, tapi rumah gedongan, pakai gaun tapi berantem pakai pedang dan loncat terbang, habis itu nyanyi dangdut ala india…… wadddddddduuuuuuuuhhhhhh aku tersiksa bener……  hingga suatu saat hal semacam itu lenyap sudah. Tidak ada lagi  sinetron atau FTV indonesia yang berantem-berantem. Saat itu semua sinetron berganti dengan cerita yang hooooaaaaaaammmmm mau bobo kalau saya ingat, lebih muntahhhhhh kaleeeeeengggggg. Ada bibir yang di tukar, ada cinta fitri banci, ada ini ada itu gua tidak mau tahu. Apa masyarakat senang….. yaaaaaa tentu saja para ibu rumah tangga, remaja putri dan juga remaja putra yang keputri-putrian pasti suka tayangan cengeng babi ala cinta fitri dan lainnya.
Sinetron cengeng ala telanovela tetapi lebay ini merajai pertelevisian sudah bertahun-tahun yaaaa sekitar 5 tahun terakhir. Berhasil sih… secara mungkin tidak ada tontonan lain, atau masyarakat kebanyakan malas menonton film import berkualitas ala Bioskop Trans TV atau Box Office nya RCTI karena kendala bahasa. Yang penting sinetron drama najis itu ada dimana-mana, bintang baru dengan acting diluar standard bermunculan, bintang macam Nikita Willy dan Sheren Sungkar pun kebingungan mau simpen duit dimana saking kaya nya gara-gara sinetron ini sukses membodohi masyarakat. Sampai sekarang juga saya selalu menunggu adanya sinetron laga klasik macam dulu, saya berterima kasih kepada Indosiar yang masih mau menayang ulangkan sinetron buatan Genta Buana pitaloka yang dulu booming di layarnya, walau tayangan ulang jam 1:00 dini hari aku suka menontonnya.
Baru-baru ini, Genta Buana Pitaloka yang sudah lama mengganti nama menjadi Genta Buana Paramita, merilis ulang atau tepatnya lagi membuat ulang kisah sukses Tutur Tinular menjadi Tutur Tinular Versi 2011. Melihat tayangan trailer di televise saya sangat gembira sekali, karena saya berfikir ini lah saatnya geliat laga klasik kolosal kembali bangun dari bobo nya. Hingga tiba saatnya penayangan perdana Tutur Tinular versi 2011 itu tiba, dan saya menyaksikan dengan antusias dari pertama gambar muncul.
Hatiku yang berbunga-bunga mendadak malah menjadi berakar-akar gak karuan melihat tayangan yang dulu sangat aku cintai ini. Bagaimana tidak, kesan pertama muncul pemain menggunakan kostum ala kerajaan Mataram Islam saya sudah kaget, ini Genta Buana tumben banget, apa mereka mabok semua atau malah merekrut penata kostum secara asal-asalan sambil merem atau bahkan tidak ada meeting dengan serius mengenai kostum. Minimal mereka melihat di masa Tutur Tinular 1997, ini adalah kerajaan Singasari. Singasari adalah sesepuhnya Majapahit, pada jaman Majapahit saja tidak ada pakaian yang tertutup, semua pria sampai rajanya juga bertelanjang dada, paling dia memakai aksesoris seperti kalung atau selendang, tapi bagaimana mungkin pejabat kadipaten Manguntur dan Kurawan berpakaian ala Kerajaan Mataram, dengan menggunakan jas jawa warna-warni wartinah waria warung tegal (lebay dehhhh) bertopi seperti ember kapur ala penganten jawa, semua itu bukan punya singasari. Kostum wanita juga tidak kalah mengecewakan, oke lah mungkin dengan sedikit improvisasi pada hiasan mewah di kepala salah satu putri ini agak menarik, tapi mengapa pakaian Nari Ratih seperti wanita Hindustan dengan kerudung?
Bukan itu saja pemilihan peran untuk tokoh-tokoh sentral juga kurang sreg.. Arya Kamandanu berkulit terlalu putih, wajah kurang Simpatik dan terlalu ceking, sementara ayahnya Empu Hanggareksa malah terlihat lebih muda dan tidak ada tampang seorang Empu pembuat senjata, tidak disinggung sama sekali kalau ayah Kamandanu ini adalah seorang Empu, dia berpakaian seperti lurah-lurah pada masa kompeni yang menguasai pasundan….. waduuuuuhhhhhhhhhhhhh parah.
Musik pengiring….. dulu pada zaman Tutur Tinular versi bioskop dan Tutur Tinular 1997 musik digarap dengan sangat bagus sekali oleh Harry Sabar, dengan adanya ilustrasi music tersebut kesan kolosalnya duuuuuaaaaapattttt buaanget…, para pendekar tampak gagah dan perkasa saat bertarung di iringi ilustrasi music om Harry. Bahkan dalam Saur Sepuh dulu music Harry Sabar sempat di pakai untuk Produksi film laga di hongkong…. Tapi….. Tapi…. Oh….. lihat sekarang, saya pusing mencari siapa penggarap ilustrasi music pada Tutur Tinular 2011 ini, entah siapa namanya.. apa dia pemain organ tunggal atau apa. Dalam sebuah adegan pertemuan Arya Kamandanu dengan Nari Ratih aku sempat korek-korek kuping tidak percaya ketika aku mendengar ada lagu Original Soundtract Chin Shen Shen Yu Mong Mong/清深深雨蒙蒙 (Kabut Cinta) yaitu lagu Hao Xiang Hao Xiang/好想好想dalam bahasa Indonesia dan dinyanyikan oleh seorang pria, lagu itu dalam satu episode muncul berkali-kali. Demikian juga dengan music lainya aku rasa seperti memotong instrument dan di tempel begitu saja pada adegan-adengannya, waduuuuuuhhhhh yang kaya gini gak bisa nih dibilang versi 2011. Dimana-mana yang namanya versi baru itu selalu lebih bagus dari versi lamanya, lihat aja Return of The Condor Heroes versi Lama dengan baru kan bagusan yang baru, walau artis ganti tetapi hal-hal lain semacam effect dan teknologi pengambilan gambar tambah keren…. Ehhh yang ini malah seperti habis pakai window vista terus pakai DOS, mampus dah… mending gua nimba air ngisi bak mandi.
Yang paling fatal dari semua adalah adegan fight yang selalu saja dibuat slow motion, hellllloooooooo ini sinetrol silat, dahulu kala jaman sinetron macam ini booming, dalam lokasi shoot ada latihan khusus para pemain untuk dapat beradegan speed fighting…, ini di tekankan sekali lho terutama di Diwangkara, calon pemain yang bisa speed fighting dan yang tidak pasti akan lebih di hargai yang bisa speed fighting. Karena adegan akan semakin dramatis melihat jurus silat yang di peragakan dengan bagus dan cepat, perpaduan kibasan pedang, pukulan dan tendangan serta loncatan itu diberi effect suara hasilnya sangat memukau, nah kalau dah di slow motion terus apa bagusnya,? Mau taruh sound effect juga nanti bunyinya seperti apa?..... walahhhhhh jadi ingat ketoprak nya TVRI stasiun Yogyakarta deh … kakang mbok….
Ada lagi ini yang parah banget ni, Tutur Tinular Versi 2011 ini tidak di dubbing, mereka menggunakan direct vocal atau suara asli pemain seperti sinetron drama pada umumnya. Ini tentu mengganggu, sinetron silat kebanyakan beradegan di luar ruangan dengan latar belakang hutan, danau atau pasar buatan, untuk shooting di medan seperti itu tentu tidak mungkin dong genset di taruh di bawah tanah atau di letakan di kampung sebelah, mau ditaruh dimana juga itu suara generator kedengaran masuk ke boomer. Ingat tidak di Prahara Prabu Siliwangi dulu entah ada salah dimana, salah satu episode lupa tidak ter dubbing, hasilnya saat tayang di televisi dialog tidak kedengaran dan yang terdengar suara mesin genset yang mengganggu. Mungkin iya jaman sekarang ada boomer yang bisa meredam suara latar yang ribut, tetapi penggunaan logat bahasa pemain kan sangat berpengaruh, mana yang harus berwibawa, mana yang romantis, mana yang urakan dan mana yang menggoda itu memerlukan teknik vocal tersendiri, nah teknik vocal inilah yang belum dikuasai oleh kebanyakan para pemain sinetron laga jaman sekarang, jadi akan lebih bagus banget kalau di dubbing menggunakan pengisi suara yang professional seperti sanggar Prativi dan lainya. Coba saja perhatikan suara Nari Ratih yang aduuuuhhhh gimanaaaa gitu bikin mules kalau dengar…. Datar dan tidak berjiwa.
Walau bagaimanapun juga aku selalu mengikuti setiap episodenya karena saya masih menunggu kehadiran Mei Shin, entah apa jadinya Mei Shin nanti, kostum apa yang akan di pakai? Terkadang saya suka geli dan tersenyum sendiri, bagaimana tidak melihat kostum pemain yang saya sebutkan di atas sudah salah nah ketika Mei Shin Muncul saya membayangkan dia menggunakan pakaian ala wanita china pada zaman Manchu, jadi kaya putri Huan Zhu gitu ada kebon bunga di kepala dan sandal yang hak nya di tengah huaaaaa haaaaa haaaaa….. habisnya bête banget dari tadi salah kostum mulu.
Sampai dengan detik ini yang saya pantau sinetron ini cukup mengejutkan, pada episode pertama dan kedua, dia mendapat peringkat 6 besar di ratting, ini mungkin karena semua penggemar Tutur Tinular dan sinetron kolosal ngumpul untuk nonton, tetapi kalau mereka tau kualitas idolanya itu tidak sehebat yang dibayangkan, apa mereka mau bertahan untuk menontonnya terus, minimal setelah semua tokoh sentral keluar gak ada yang berubah maka ya sudah Good Bye My Love judulnya.
Sekarang tugas Genta Buana Paramitha adalah merevisi sinetron ini, oke sebagai pengantar kita maafkan ke kakuan yang ada, namun semangat harus terpacu dan otak  terus bekerja keras agar bisa mendapatkan kualitas sinetron seperti harapan public. Andaikan Tutur Tinular 2011 ini bertahan dan sukses hingga episode terakhir menjaring penonton, maka judul-judul lain bukan tidak mungkin akan muncul kembali, bahkan dengan format yang lebih bagus, dan pemain yang lebih fress dan berkualitas tentunya. Saya selalu berharap agar kita bisa mencintai buatan sendiri, minimal tontonan di tivi itu berbeda-beda, jangan kaya sekarang, yang satu bikin kuis yang lain ikut, satu ada panggung komedi yang lain gak mau kalah, kalu begini ya jangan banyak-banyak stasiun TV, mending marger aja ya nggak…. Semangat ya. (Dede Loo, 09/30/2011)